BANDAR LAMPUNG — Perkembangan teknologi digital membuka ruang komunikasi dan pertukaran informasi yang semakin luas. Namun, kemudahan tersebut juga menghadirkan tantangan berupa penyebaran berita bohong, ujaran kebencian, perundungan siber, hingga polarisasi sosial yang berpotensi mengganggu persatuan masyarakat. Dalam situasi ini, penguatan nilai-nilai Pancasila menjadi penting agar kemajuan teknologi berjalan seiring dengan pembentukan karakter dan tanggung jawab kebangsaan.
Ketua Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI) Provinsi Lampung, Mayor (Purn.) Subardi, menekankan bahwa Pancasila harus tetap menjadi pedoman masyarakat dalam menghadapi perubahan zaman, termasuk ketika berinteraksi di ruang digital. Kemajuan teknologi, menurut pandangan yang disampaikannya, perlu diimbangi dengan penguatan moral, etika, dan rasa cinta tanah air agar masyarakat tidak kehilangan jati diri sebagai bangsa Indonesia.
Pancasila sebagai dasar negara dan ideologi bangsa memiliki nilai-nilai yang relevan untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, termasuk dalam penggunaan media sosial. Nilai ketuhanan mengajarkan pentingnya moralitas dan tanggung jawab, sementara nilai kemanusiaan menegaskan kewajiban menghormati martabat serta hak orang lain, baik dalam interaksi langsung maupun melalui platform digital.
Di ruang digital, pengamalan nilai kemanusiaan dapat diwujudkan dengan tidak melakukan perundungan, menghindari penghinaan terhadap kelompok tertentu, dan menghargai perbedaan pandangan. Kebebasan menyampaikan pendapat juga perlu disertai kesadaran bahwa setiap pengguna teknologi memiliki tanggung jawab atas informasi dan pernyataan yang disebarkannya.
Nilai persatuan Indonesia pun menjadi semakin penting di tengah derasnya arus informasi yang dapat memperkuat prasangka dan mempertajam perbedaan. Konten provokatif yang beredar tanpa pemeriksaan dapat memicu kesalahpahaman, bahkan merusak hubungan antarkelompok masyarakat. Karena itu, semangat persatuan perlu tercermin dalam kebiasaan memeriksa kebenaran informasi, tidak mudah terprovokasi, serta mengutamakan dialog ketika menghadapi perbedaan.
Sebagai organisasi yang menaungi para veteran, LVRI memiliki pengalaman sejarah dan nilai perjuangan yang dapat menjadi sumber pembelajaran bagi generasi muda. Semangat pengorbanan, kedisiplinan, persatuan, dan cinta tanah air merupakan warisan yang tetap relevan meskipun tantangan bangsa terus berubah mengikuti perkembangan zaman.
Dalam konteks tersebut, Mayor (Purn.) Subardi memiliki peran untuk mendorong pewarisan nilai-nilai kebangsaan kepada generasi penerus melalui lingkungan sosial dan kegiatan edukasi. Pengalaman para veteran mengingatkan bahwa kemerdekaan dan keutuhan bangsa bukanlah sesuatu yang hadir tanpa perjuangan. Keduanya membutuhkan komitmen bersama untuk menjaga kepentingan nasional di atas kepentingan pribadi maupun golongan.
Tantangan menjaga persatuan saat ini memang tidak selalu hadir dalam bentuk konflik fisik. Di dunia digital, persoalan dapat bermula dari informasi yang tidak terverifikasi, narasi yang memecah belah, atau komentar yang merendahkan kelompok lain. Jika dibiarkan, pola komunikasi semacam itu dapat memperlemah kepercayaan dan mengganggu hubungan sosial.
Oleh karena itu, pengamalan Pancasila perlu diwujudkan melalui tindakan konkret. Masyarakat dapat memulainya dengan memeriksa sumber informasi sebelum membagikannya, menggunakan bahasa yang santun, menghormati perbedaan pendapat, serta menolak penyebaran konten yang mengandung kebencian dan diskriminasi. Sikap kritis juga diperlukan agar pengguna internet tidak mudah terjebak dalam provokasi maupun informasi yang sengaja disebarkan untuk memperuncing konflik.
Penguatan karakter kebangsaan juga tidak dapat hanya dibebankan kepada sekolah atau lembaga pemerintah. Keluarga, lingkungan masyarakat, organisasi kemasyarakatan, dan komunitas digital memiliki peran dalam membangun kebiasaan berkomunikasi yang sehat. Pendidikan Pancasila perlu hadir sebagai praktik hidup, bukan sekadar materi hafalan atau kegiatan seremonial.
Di Lampung, pengalaman para veteran dapat dimanfaatkan untuk memperluas dialog lintas generasi mengenai sejarah perjuangan, arti kemerdekaan, dan tanggung jawab warga negara dalam merawat persatuan. Kegiatan edukasi kebangsaan dan pengenalan sejarah dapat membantu generasi muda memahami bahwa menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia merupakan tanggung jawab yang terus berlangsung, bahkan setelah perjuangan merebut kemerdekaan berakhir.
Pada akhirnya, teknologi digital tidak harus menjadi sumber perpecahan. Dengan menjadikan Pancasila sebagai pedoman dalam berpikir, berkomunikasi, dan bertindak, masyarakat dapat memanfaatkan kemajuan teknologi sekaligus menjaga penghormatan terhadap sesama. Semangat kebangsaan yang diwariskan para veteran diharapkan terus hidup dalam perilaku generasi muda, baik di lingkungan nyata maupun di ruang digital.
Damailah Indonesiaku Bersama Cegah Terorisme!