DEPOK — Wakil Wali Kota Depok Chandra Rahmansyah mengajak generasi muda memperkuat toleransi dan kerukunan antarumat beragama sebagai fondasi mewujudkan Kota Depok yang inklusif. Menurutnya, masa depan kota tidak hanya ditentukan oleh pembangunan fisik dan pertumbuhan ekonomi, tetapi juga oleh kemampuan warganya menerima perbedaan dan hidup berdampingan secara damai.
Pesan tersebut disampaikan Chandra dalam Sarasehan Depok Kota Inklusif Tahun 2026 yang diselenggarakan Komisi Kerukunan Antarumat Beragama Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Depok, Rabu. Ia menilai keterlibatan generasi muda dalam kegiatan yang mengangkat nilai toleransi menjadi penting karena merekalah yang akan menentukan wajah kehidupan sosial Depok pada masa mendatang.
“Keterlibatan generasi muda sangat penting karena masa depan Kota Depok turut ditentukan oleh generasi saat ini,” kata Chandra.
Ia mengapresiasi kehadiran anak-anak muda dalam sarasehan tersebut. Menurutnya, partisipasi generasi muda perlu terus didorong agar nilai kebersamaan dan penghormatan terhadap perbedaan tidak berhenti sebagai wacana, tetapi menjadi kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari.
“Saya senang sekali kalau acara-acara seperti ini generasi mudanya banyak yang hadir,” ujarnya.
Chandra mengatakan, kondisi Depok dalam 10 hingga 20 tahun mendatang akan banyak dipengaruhi oleh cara generasi muda saat ini memahami keberagaman dan membangun hubungan sosial. Karena itu, pendidikan toleransi perlu disertai pengalaman berinteraksi langsung dengan orang-orang yang memiliki latar belakang berbeda.
Ia mengingatkan bahwa keberagaman agama, budaya, suku, dan kondisi sosial merupakan kekayaan yang harus dijaga bersama. Kemajuan sebuah kota, menurutnya, tidak cukup diukur dari pembangunan infrastruktur atau capaian ekonomi, tetapi juga dari kualitas hubungan antarwarga, rasa saling menghormati, dan kuatnya persaudaraan di tengah masyarakat.
Dalam kesempatan itu, Chandra juga menggarisbawahi perbedaan antara kerukunan dan toleransi. Tidak adanya konflik belum tentu menunjukkan bahwa masyarakat telah membangun hubungan yang benar-benar inklusif. Kerukunan yang kuat, menurutnya, perlu ditopang kesadaran untuk menerima perbedaan, bukan sekadar keadaan yang membuat masyarakat enggan atau tidak berani berselisih.
“Memang kita rukun, enggak ada berantem di sini ya antara agama mungkin antara ini, tapi harus dilihat juga kerukunannya karena apa? Apakah karena ada karena sifat toleransi atau gara-gara mungkin di sini ada markas Brimob, ada markas Kostrad, dekat Mako TNI Polri,” tuturnya.
Pernyataan tersebut menekankan pentingnya melihat kerukunan lebih jauh daripada sekadar tidak adanya pertikaian. Toleransi yang tumbuh dari kesadaran masyarakat akan tercermin dalam kesediaan untuk menghormati keyakinan orang lain, membuka ruang dialog, serta bekerja sama tanpa menjadikan perbedaan sebagai penghalang.
Untuk memperkuat hal itu, Chandra mengajak generasi muda memperluas ruang perjumpaan lintas agama di sekolah, kampus, dan organisasi kepemudaan. Interaksi langsung dinilai dapat membantu anak muda mengenali persamaan, memahami perbedaan, dan membangun kepercayaan di antara kelompok masyarakat. (Ant/WF)
“Anak-anak muda harus menjadi generasi yang mampu membangun jembatan persaudaraan, saya ulangi, harus menjadi generasi yang mampu membangun jembatan persaudaraan, bukan justru memperlebar jarak karena perbedaan,” ujarnya.
Selain interaksi langsung, Chandra mengingatkan pentingnya kecakapan digital dalam menjaga keharmonisan sosial. Generasi muda perlu berpikir kritis dan mampu memilah informasi agar tidak mudah terpengaruh provokasi, ujaran kebencian, maupun kabar yang berpotensi memperuncing perbedaan.
Di tengah arus informasi yang cepat, pesan yang memecah belah dapat menyebar luas sebelum kebenarannya diperiksa. Karena itu, kemampuan memverifikasi informasi dan menyikapi perbedaan secara bijaksana menjadi bagian penting dari upaya merawat toleransi, baik di ruang digital maupun dalam kehidupan nyata.
Chandra menegaskan, Pemerintah Kota Depok berkomitmen membangun kota yang inklusif dengan melibatkan berbagai unsur masyarakat. Upaya tersebut mencakup kerja sama dengan MUI, Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB), tokoh agama, lembaga pendidikan, dan organisasi kepemudaan.
Kolaborasi tersebut diharapkan dapat memperluas ruang dialog dan memperkuat keterlibatan masyarakat dalam menjaga kerukunan. Dengan memberikan ruang bagi generasi muda untuk bertemu, berdiskusi, dan bekerja sama, nilai toleransi diharapkan tumbuh sebagai kesadaran bersama, bukan sekadar slogan dalam kegiatan seremonial.
Pada akhirnya, Depok yang inklusif tidak hanya ditandai oleh masyarakat yang hidup tanpa konflik, tetapi juga oleh warga yang saling menghormati dan bersedia membangun persaudaraan di tengah perbedaan. Generasi muda memiliki peran penting untuk memastikan semangat tersebut terus tumbuh dan menjadi bagian dari masa depan kota.
Damailah Indonesiaku Bersama Cegah Terorisme!