MI5 Peringatkan Ancaman Terorisme Anak Muda dan Penyalahgunaan AI di Inggris

LONDON – Badan intelijen Inggris, MI5, memperingatkan meningkatnya ancaman terorisme yang melibatkan anak muda, terutama akibat pergeseran paham ekstremisme sayap kanan menjadi kecenderungan melakukan kekerasan. Perkembangan ini menjadi perhatian serius karena proses radikalisasi dapat menjangkau usia yang semakin muda, sementara kemajuan teknologi digital membuka ruang baru bagi penyebaran propaganda ekstremis.

Direktur MI5 Ken McCallum mengatakan, salah satu perkembangan paling menonjol dalam penanganan kasus selama setahun terakhir adalah meningkatnya kecenderungan ekstremis sayap kanan menerjemahkan pandangan radikal menjadi niat melakukan aksi terorisme.

Menurut laporan media Inggris, MI5 menemukan semakin banyak kasus ketika sentimen anti-imigrasi dan anti-Islam berkembang menjadi niat melakukan kekerasan. Kelompok atau individu yang terpengaruh paham tersebut berpotensi menjadikan imigran, komunitas Muslim, pusat imigrasi, serta hotel yang menampung pencari suaka sebagai sasaran.

Perkembangan tersebut berlangsung di tengah meningkatnya aktivitas protes anti-imigran yang melibatkan kelompok sayap kanan Patriot Platform di Portsmouth dan Dover pada musim gugur ini. Insiden bermotif rasisme dan kebencian agama di Inggris juga dilaporkan meningkat hingga mencapai rekor tertinggi.

McCallum menyoroti keterlibatan anak muda dalam proses radikalisasi sebagai salah satu persoalan yang membutuhkan perhatian khusus. Ia mengungkapkan bahwa MI5 menyelidiki seorang remaja berusia 13 tahun yang telah mengalami radikalisasi pada tahun ini.

Kasus tersebut memperlihatkan bahwa usia muda tidak dengan sendirinya menjadi penghalang bagi seseorang untuk terpapar ideologi ekstremis. Lingkungan pergaulan, paparan konten digital, dan interaksi dengan komunitas yang menyebarkan kebencian dapat menjadi faktor yang perlu diwaspadai dalam upaya pencegahan.

Ancaman serupa juga tercermin dalam kasus seorang remaja berusia 16 tahun di Skotlandia yang pada tahun sebelumnya dijatuhi hukuman penjara 10 tahun setelah mengaku bersalah merencanakan pembakaran sebuah pusat Islam di Greenock dengan tujuan membunuh banyak orang.

Kasus-kasus tersebut menunjukkan bahwa penyebaran kebencian berbasis identitas agama dan asal-usul dapat menimbulkan risiko nyata bagi keselamatan masyarakat. Karena itu, pencegahan radikalisasi perlu dilakukan dengan memperkuat literasi digital, pendidikan toleransi, dan kemampuan generasi muda untuk mengenali propaganda yang mendorong permusuhan maupun kekerasan.

McCallum juga memperingatkan meningkatnya risiko kekerasan yang menyasar tokoh politik, organisasi keagamaan, dan masyarakat. Situasi tersebut mencerminkan tantangan keamanan yang semakin kompleks, terutama ketika perbedaan pandangan dan identitas digunakan untuk membenarkan tindakan kekerasan.

Selain radikalisasi anak muda, MI5 menyoroti potensi penyalahgunaan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) oleh negara-negara yang dianggap sebagai musuh Inggris maupun organisasi teroris. Teknologi tersebut dinilai dapat memperluas kemampuan pelaku dalam mengembangkan propaganda, merencanakan serangan, dan melancarkan aktivitas siber yang mengancam keamanan nasional.

Kekhawatiran juga muncul terkait kemungkinan penggunaan AI untuk mendukung pengembangan senjata biologis. Pada bulan sebelumnya, perusahaan pengembang AI Anthropic menyatakan telah mendokumentasikan lima contoh penggunaan model AI yang dinilai dapat membantu proses pengembangan senjata biologis. Perusahaan itu memperingatkan bahwa penyalahgunaan teknologi semacam ini berpotensi menimbulkan konsekuensi serius.

Menurut McCallum, kemampuan AI yang terus berkembang dapat dimanfaatkan untuk membantu peretas melancarkan serangan siber, mendukung perencanaan aksi terorisme, mengendalikan drone, serta menghasilkan propaganda ekstremis yang dirancang untuk memengaruhi individu tertentu.

Potensi tersebut menambah kompleksitas upaya pencegahan terorisme. Teknologi yang pada dasarnya dapat digunakan untuk tujuan produktif juga berisiko disalahgunakan oleh pihak yang ingin menyebarkan kebencian, merekrut individu, atau memperkuat kemampuan operasional mereka.

Untuk merespons tantangan itu, MI5 akan mendirikan Pusat Penilaian Ancaman AI yang melibatkan para ahli dari berbagai lembaga pemerintah. Pusat tersebut dirancang untuk menilai tingkat bahaya yang ditimbulkan oleh perkembangan AI sekaligus membantu pemerintah memahami risiko yang perlu diantisipasi.

Di luar ancaman terorisme, McCallum menyebut risiko yang berasal dari negara-negara musuh telah meningkat empat kali lipat dalam satu dekade terakhir. Menurut dia, skala ancaman tersebut kini sebanding dengan tantangan yang dihadapi MI5 dalam menjalankan misi kontra-terorisme.

Ia menilai Inggris sedang memasuki era baru keamanan nasional, ketika ancaman semakin beragam dan sulit diprediksi. Perkembangan tersebut menuntut pendekatan keamanan yang mampu mengikuti perubahan teknologi sekaligus memahami dinamika sosial yang memengaruhi proses radikalisasi.

Peringatan MI5 menjadi pengingat bahwa pencegahan terorisme tidak cukup hanya mengandalkan penindakan setelah muncul indikasi serangan. Perlindungan generasi muda, penguatan pendidikan, penanganan propaganda kebencian, serta pengawasan terhadap penyalahgunaan teknologi perlu berjalan beriringan.

Di tengah perkembangan AI dan semakin luasnya interaksi anak muda di ruang digital, keluarga, sekolah, masyarakat, perusahaan teknologi, dan pemerintah memiliki peran dalam membangun lingkungan yang aman. Pendekatan tersebut perlu mengedepankan deteksi dini, pendampingan, literasi digital, dan penghormatan terhadap keberagaman agar anak muda tidak mudah terpengaruh oleh ideologi yang membenarkan kekerasan.