Menyemai Kerukunan dan Menangkal Radikalisme Melalui Sinergi KUA Wirobrajan dan Kaum Rois

Yogyakarta – Sinergi antara lembaga keagamaan resmi dan tokoh masyarakat di tingkat akar rumput menjadi salah satu benteng pertahanan sosial paling efektif untuk membentengi warga dari ancaman paham intoleransi, radikalisme, dan terorisme. Kantor Urusan Agama (KUA)

Kemantren Wirobrajan bersama para anggota Kaum Rois menggelar pertemuan pembinaan keagamaan berkala di Rumah Makan Mas Timbur, Yogyakarta. Pertemuan ini tidak hanya menjadi wadah silaturahmi, melainkan instrumen strategis untuk menyelaraskan langkah dalam menjaga kehidupan masyarakat yang religius, rukun, serta berpandangan moderat.

“Saya memandang bahwa sinergi antara KUA Wirobrajan dan Kaum Rois merupakan kunci utama untuk membangun fondasi kerukunan yang kokoh di tengah masyarakat. Kerukunan umat tidak akan pernah tumbuh dengan sendirinya, melainkan harus terus kita rawat secara berkelanjutan melalui komunikasi yang cair, keteladanan nyata, serta kerja sama yang intensif hingga ke lingkungan terkecil,” tegas salah satu Tokoh Agama Wirobrajan, Wakit Wagiyanto pada Minggu, 11 September 2026.

Penguatan pemahaman spiritual yang damai dan menyejukkan menjadi fokus utama dalam membendung masuknya ajaran ekstremis yang sering kali memanipulasi narasi agama untuk memicu perpecahan. Kebiasaan bersyukur dan kepedulian sosial yang ditanamkan sejak dini dinilai mampu mengikis sifat radikal dalam beragama. 

“Saya menekankan pentingnya kita merawat rasa syukur atas nikmat kedamaian yang kita nikmati saat ini. Rasa syukur itu harus kita wujudkan dengan senantiasa menjaga hubungan baik antar sesama warga serta menumbuhkan rasa kepedulian terhadap lingkungan sekitar.

Nilai-nilai keagamaan seperti ini sangat penting agar ibadah kita tidak hanya berhenti sebagai rutinitas personal, melainkan berdampak langsung pada tindakan sosial yang menyejukkan dan inklusif,” ujar Wakit.

Selain penguatan nilai-nilai keagamaan yang moderat, pertemuan ini juga dimanfaatkan untuk memantapkan koordinasi organisasi dan pemetaan berbagai kegiatan sosial kemasyarakatan.

Peran aktif Kaum Rois yang bersentuhan langsung dengan warga harian menjadi keunggulan utama dalam mendeteksi serta meredam benih-benih intoleransi sejak awal.

“Saya meyakini bahwa Kaum Rois memiliki peran yang sangat strategis karena mereka berada di garis terdepan dan hadir sangat dekat dalam mendampingi aktivitas harian warga. Ketika KUA menjalankan fungsi pelayanan hukum dan regulasi, Kaum Rois melengkapinya dengan pendekatan humanis yang menyentuh hati masyarakat. Kolaborasi ini memastikan bahwa narasi radikalisme tidak akan menemukan celah untuk berkembang di Wirobrajan,” imbuh Wakit.

Inisiatif pembinaan berbasis komunitas di Kemantren Wirobrajan ini membuktikan bahwa pencegahan terorisme dan ekstremisme berbasis kekerasan dapat dilakukan secara mandiri melalui ruang-ruang dialog yang hangat dan penuh kekeluargaan. Wakit merasa sangat bersyukur dapat terus berkoordinasi langsung dengan pihak KUA dalam menjaga keharmonisan wilayah Wirobrajan.

Melalui pertemuan berkala ini, Kaum Rois mendapatkan pembekalan yang jelas untuk menyebarkan syiar Islam yang ramah, menghargai keberagaman, serta memperkuat solidaritas sosial. Kaum Rois berkomitmen untuk selalu membimbing warga agar tidak mudah terprovokasi oleh berita bohong maupun ajaran yang mengarah pada radikalisme.

“Komitmen bersama yang dijaga secara konsisten ini, KUA Wirobrajan dan Kaum Rois menegaskan kembali bahwa keharmonisan masyarakat Yogyakarta dibangun dari rasa saling percaya. Dari ruang perjumpaan yang sederhana, tumbuh semangat besar untuk mewujudkan tatanan kehidupan sosial yang damai, bertoleransi tinggi, serta terbebas dari ancaman radikalisme maupun terorisme,” pungkas Wakit Wagiyanto.