Yogyakarta – Simbol keharmonisan dan semangat persatuan bangsa secara konsisten ditunjukkan oleh warga Yogyakarta melalui aksi nyata dalam kehidupan sehari-hari. Gereja Santo Antonius Padua Kotabaru tidak hanya berdiri kokoh sebagai tempat ibadah umat Katolik, melainkan juga memegang peran strategis dalam merawat kerukunan antarumat beragama serta memutus celah penyebaran paham intoleransi, radikalisme, dan terorisme. Kerukunan lintas iman ini tercermin dari keterlibatan aktif pengurus Masjid Syuhada dan Gereja Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) Yogyakarta yang kerap hadir mendukung berbagai momentum hari besar keagamaan di Kotabaru.
Keberadaan Gereja Kotabaru telah menjadi ruang perjumpaan sosial yang sangat inklusif bagi seluruh elemen masyarakat. Baik pengurus Masjid Syuhada maupun Gereja Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) Yogyakarta, ingin menunjukkan bahwa perbedaan keyakinan bukan sekat yang memisahkan, melainkan modal sosial untuk memperkuat persaudaraan nasional.
Kegiatan Kotabaru Run sendiri dilaksanakan pada Minggu (11/10). Semangat kebersamaan yang menyejukkan tersebut kembali mewarnai gelaran olahraga Kotabaru Run 2026 yang diselenggarakan dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) Gereja Santo Antonius Padua Kotabaru. Kepanitiaan ajang ini secara terbuka melibatkan para sukarelawan lintas agama serta masyarakat umum dari luar paroki, termasuk pemuda dan mahasiswa Muslim di Yogyakarta.
“Saya merasa sangat senang dan bangga dapat bergabung sebagai volunteer dalam event lari Kotabaru Run 2026 ini. Saya tertarik untuk ikut bergabung karena ingin menambah pengalaman berharga sekaligus merasakan indahnya kebersamaan dalam tim yang sangat menghargai latar belakang beragam,” kata salah satu sukarelawan Kotabaru Run 2026, Betty.
Soliditas panitia yang terdiri dari berbagai pemeluk agama mengemban tugas masing-masing dengan penuh rasa tanggung jawab, mulai dari seksi konsumsi, pengelolaan rute, hingga dokumentasi. Pelibatan generasi muda lintas iman ini menjadi bukti nyata bahwa narasi kebencian dan paham radikal tidak akan mampu memecah belah masyarakat yang terbiasa bekerja sama.
Kotabaru Run dipandang dapat memantik keterlibatan anak-anak muda dari berbagai latar belakang agama, dan ajang olahraga ini sekaligus sebagai langkah preventif yang efektif untuk menolak paham radikalisme. Ketika anak muda dari kelompok yang berbeda terbiasa bergotong oyong, mereka secara otomatis membangun imunitas dari propaganda intoleransi yang sering berupaya memicu prasangka negatif antarumat.
Inisiatif positif yang ditunjukkan oleh warga dan mahasiswa di Kotabaru mendapat apresiasi luas karena mampu menghadirkan ruang publik yang aman, damai, dan bebas dari sentimen keagamaan yang sempit. Sikap keterbukaan ini dinilai sebagai cara terbaik dalam merawat keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia dari ancaman gerakan ekstremis.
Kegiatan seperti ini adalah bukti nyata keberhasilan moderasi beragama di tingkat akar rumput. Yogyakarta membuktikan kepada Indonesia bahwa toleransi bukan sekadar teori di atas kertas, melainkan praktik hidup sehari-hari di mana warga Muslim, Katolik, dan Protestan saling mendukung tanpa ragu. Kemitraan yang erat ini secara otomatis menutup rapat celah bagi masuknya ideologi terorisme yang ingin merusak kedamaian bangsa.
Keberhasilan penyelenggaraan Kotabaru Run 2026 mengaitkan semangat kebangsaan, pola hidup sehat, dan nilai-nilai toleransi menjadi satu kesatuan yang utuh. Melalui kolaborasi yang erat dan penuh rasa saling menghormati ini, masyarakat Yogyakarta membuktikan bahwa perbedaan adalah kekayaan yang memperkuat bangsa.
Baik pengurus Masjid Syuhada maupun Gereja Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) Yogyakarta, berharap agar ruang-ruang perjumpaan inklusif seperti Kotabaru Run ini dapat terus dilestarikan dan dicontoh oleh daerah lain di Indonesia. Apabila toleransi sudah menjadi kebiasaan dan kebersamaan menjadi tradisi, maka segala bentuk ajaran radikal dan intoleran tidak akan pernah menemukan tempat untuk tumbuh di bumi Nusantara.
Damailah Indonesiaku Bersama Cegah Terorisme!