Anak Muda Ternate Diajak Jadi Filter Radikalisme di Era Digital

TERNATE – Upaya menangkal paham radikalisme di ruang digital menyasar generasi muda Kesultanan Ternate. Kapolres Ternate, AKBP Anita Ratna Yulianto, S.I.K., M.H., hadir sebagai narasumber dalam Karantina Jojaru dan Ngongare, rangkaian Festival Legu Tara No Ate di Pendopo Bala Kesultanan Ternate, Minggu (11/10/2026).

Kegiatan yang diikuti puluhan generasi muda Jojaru (pemuda) dan Ngongare (pemudi) ini mengusung tema “Kepemimpinan dan Peran Generasi Muda dalam Penyebaran Radikalisme di Era Digitalisasi”.

Di hadapan para peserta, Kapolres Anita menekankan bahwa tantangan kepemimpinan hari ini tidak hanya di dunia nyata, tapi juga di dunia maya. Pesatnya teknologi membuat paham intoleran dan provokatif bisa menyebar hanya lewat satu klik.

Ia mengajak generasi muda untuk tidak sekadar menjadi pengguna media sosial, tapi menjadi pengguna yang bijak. Kuncinya ada tiga: mampu memilah informasi, tidak mudah terprovokasi konten intoleran, dan selalu memeriksa kebenaran sebelum membagikan sesuatu.

“Generasi muda jangan hanya jadi pengguna teknologi, tapi manfaatkan untuk menyebarkan pesan perdamaian, toleransi, dan persatuan,” ujar AKBP Anita.

Menurutnya, sikap kritis di ruang digital menjadi benteng utama untuk mencegah hoaks, ujaran kebencian, dan narasi yang memecah belah. Di era digital, anak muda memiliki peran strategis sebagai agen perubahan yang membawa pengaruh positif di lingkungan masing-masing.

Melalui karantina ini, Jojaru dan Ngongare diharapkan tidak hanya memahami adat dan kepemimpinan Kesultanan, tapi juga mampu mengambil peran aktif menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas) di Kota Ternate.

Polres Ternate sendiri terus mendorong kolaborasi dengan elemen adat dan komunitas pemuda. Dengan semangat kearifan lokal Kesultanan Ternate, generasi muda diharapkan menjadi teladan dalam menggunakan teknologi secara bertanggung jawab.

Harapannya, dari pendopo kesultanan ini lahir generasi yang inklusif, damai, dan kebal terhadap pengaruh radikalisme, serta turut menjaga keutuhan bangsa di tengah dinamika dunia digital.