POSO – Polres Poso, Sulawesi Tengah, turun langsung ke sekolah untuk membekali pelajar dengan imun kebangsaan. Sasarannya adalah siswa SMA yang dinilai paling rentan terpapar paham radikal, intoleran, hingga hoaks yang menyamar di media sosial.
Edukasi itu disampaikan Kasat Binmas Polres Poso AKP Andi Cakra dalam kegiatan Latihan Dasar Kepemimpinan (LDK) remaja tingkat SMA di Poso, Selasa (6/10).
Menurut Cakra, wawasan kebangsaan dan toleransi bukan lagi materi hafalan, melainkan fondasi bertahan hidup di tengah keberagaman dan derasnya informasi.
“Remaja adalah penerus bangsa. Tantangan mereka hari ini bukan hanya soal akademik, tapi juga narkotika, radikalisme, dan propaganda yang memecah belah,” ujarnya.
Polres Poso melihat organisasi siswa seperti OSIS punya posisi strategis. Mereka bukan sekadar panitia acara, tapi bisa menjadi perpanjangan tangan untuk menjaga iklim sekolah tetap kondusif, inklusif, dan kebal dari ajakan ekstrem.
Cakra mengakui, saat ini penyebaran paham intoleransi dan ajakan kekerasan banyak dikemas secara halus lewat konten media sosial. Narasi provokatif, meme adu domba, hingga berita bohong mudah memancing emosi remaja.
Karena itu, Sat Binmas fokus pada literasi berpikir kritis.
“Kami ajarkan jangan langsung share. Verifikasi dulu kebenarannya. Saring sebelum sharing. Kuncinya adalah sinergi Polri, sekolah, dan orang tua untuk menciptakan lingkungan yang aman,” ucapnya.
Melalui pembekalan ini, Polres Poso berharap para pengurus OSIS dan peserta LDK bisa menjadi agen perdamaian. Tidak hanya menjaga sekolah, tapi juga membawa nilai-nilai Pancasila ke lingkungan masyarakat yang lebih luas.
Damailah Indonesiaku Bersama Cegah Terorisme!