WASHINGTON, DC - DECEMBER 15: U.S. President Donald Trump listens during a ceremony for the presentation of the Mexican Border Defense Medal in the Oval Office of the White House on December 15, 2025 in Washington, DC. During the ceremony, Trump recognized the first 13 service members to receive the recently established Mexican Border Defense Medal (MBDM), which recognizes service members supporting Customs and Border Protection on the U.S.-Mexico border. (Photo by Anna Moneymaker/Getty Images)

Trump Umumkan Penarikan Pasukan AS dari Irak, Sebut Misi Melawan ISIS Telah Berakhir

Jakarta — Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan berakhirnya kehadiran militer AS di Irak. Trump menyebut penarikan pasukan terakhir dari negara tersebut sebagai penutup operasi panjang yang menurutnya telah berhasil mencapai tujuan utama, yakni menghancurkan kelompok ISIS.

Melalui akun X resmi Gedung Putih pada Kamis (1/10/2026), Trump menyatakan pasukan Amerika terakhir telah meninggalkan Irak.

“Hari ini, dengan bangga saya umumkan bahwa pasukan Amerika terakhir sedang meninggalkan Irak,” kata Trump.

Trump mengatakan keputusan tersebut menjadi titik akhir dari keterlibatan militer AS yang berlangsung selama bertahun-tahun. Ia menilai Amerika sebelumnya terjebak dalam konflik berkepanjangan akibat keputusan strategis yang diambil pemerintahan terdahulu.

Menurut Trump, keluarnya pasukan AS dari Irak merupakan momen penting bagi kedua negara. Ia juga memberikan apresiasi kepada Perdana Menteri Irak yang baru, Ali al-Zaidi, yang disebutnya telah memperoleh dukungan sejak awal.

“Ini adalah hari yang luar biasa bagi Amerika dan, yang terpenting, kita meninggalkan Irak dengan perdana menteri baru yang hebat, Ali al-Zaidi,” ujar Trump.

Trump mengklaim kemenangan pemimpin baru Irak tersebut dalam pemilihan umum menjadi perkembangan positif bagi masa depan negara itu.

Penarikan pasukan AS dari Irak mengakhiri perjalanan operasi militer yang dimulai sejak 2003 ketika pemerintahan Presiden George W. Bush melancarkan invasi ke Irak. Kehadiran militer AS kemudian berlanjut pada 2014 melalui operasi koalisi internasional untuk memerangi ISIS.

Trump menyebut operasi tersebut telah mencapai sasaran utama setelah kelompok ISIS kehilangan wilayah kekuasaannya di Irak dan Suriah.

“Hari ini adalah kemenangan bagi Amerika Serikat, kemenangan bagi Irak, dan kemenangan besar atas ISIS,” kata Trump.

Ia membandingkan proses penarikan dari Irak dengan keluarnya pasukan AS dari Afghanistan pada 2021 yang menuai kritik karena meninggalkan sejumlah persoalan, termasuk korban jiwa dari pihak militer AS.

Trump menegaskan dirinya sejak awal tidak ingin keberadaan pasukan Amerika di luar negeri berubah menjadi penempatan tanpa batas waktu.

“Saya menetapkan misi yang jelas, memberikan sarana kepada para komandan untuk menyelesaikannya, dan menolak membiarkan kehadiran sementara berubah menjadi kehadiran permanen,” ujarnya.

Ia mengatakan pemerintahannya dihadapkan pada pilihan antara mempertahankan pasukan atau mengakhiri operasi, dan memilih untuk membawa pulang personel militer AS.

“Saya merasa yakin sepenuhnya bahwa sudah saatnya Amerika pulang. Kita datang untuk memerangi kekhalifahan. Tidak ada lagi kekhalifahan. Kita akan pulang,” kata Trump.

Berakhirnya Operasi Inherent Resolve di Irak menandai perubahan besar dalam keterlibatan militer AS di Timur Tengah, meski isu keamanan kawasan dan ancaman kelompok ekstremis masih menjadi perhatian sejumlah negara.