Tabayyun dan Sikap Kritis Jadi Bekal Anak Muda Hadapi Konten Radikal

SEMARANG – Sikap kritis dalam menerima informasi dan kesediaan menghargai perbedaan menjadi bagian penting dalam membangun toleransi di tengah masyarakat. Di tengah derasnya arus informasi digital, kebiasaan melakukan tabayyun atau memeriksa kembali kebenaran suatu informasi dinilai dapat membantu seseorang terhindar dari pemahaman yang keliru dan sikap intoleran.

Kepala Departemen Kajian Strategis UKKI Universitas Negeri Semarang (Unnes), Leila Luthfia Ahnaf, mengatakan masyarakat perlu membiasakan diri memeriksa setiap informasi atau pandangan yang diterima, termasuk yang berkaitan dengan ajaran agama. Menurutnya, informasi yang disampaikan seseorang tidak semestinya langsung diterima sebagai kebenaran tanpa ditelaah lebih lanjut.

“Kayak misalkan orang-orang yang berdebat atau ngobrol biasa kayak gini, apa yang aku keluarkan itu nggak harus selalu dipercaya. Tapi harus kita crosscheck lagi dengan ilmu-ilmu yang sudah ada, kalau dalam Islam sendiri kita harus kembali kepada Al-Quran dan sunnah sehingga kita harus mencari perspektif lain,” ujarnya dalam program SPADA PRO 2 Semarang, Selasa (22/9/2026), dikutip dari laman rri.co.id.

Leila, yang akrab disapa Fia, menilai sikap terbuka terhadap perbedaan perlu disertai pemahaman yang kuat terhadap prinsip dan nilai yang diyakini. Dengan begitu, seseorang dapat mempelajari pandangan lain secara kritis tanpa mudah terpengaruh oleh informasi yang belum terverifikasi.

Menurut Fia, pemahaman radikal yang ekstrem dapat berkembang ketika seseorang tidak memiliki toleransi terhadap perbedaan. Padahal, perbedaan pemikiran dan penafsiran merupakan hal yang wajar dalam kehidupan sosial, termasuk dalam memahami ajaran agama.

Ia mencontohkan adanya beragam mazhab dalam Islam, seperti Syafi’i dan Hanafi. Perbedaan tersebut, menurutnya, muncul dari proses penafsiran dan analisis terhadap sumber ajaran yang sama, sehingga tidak semestinya secara otomatis dipandang sebagai alasan untuk saling menolak.

“Perbedaan dalam Islam pun sangat banyak sebenarnya, ada mazhab Syafi’i, Hanafi, dan lain-lain. Tapi hal-hal seperti itu normal terjadi karena ketika kita menafsirkan atau menganalisis sesuatu yang datang dari Al-Quran, kita analogiin paling gampang orang buta memegang gajah, hal-hal seperti itu bisa menjadikan perbedaan,” kata Fia.

Ia berpandangan, toleransi memungkinkan masyarakat hidup berdampingan secara damai sekaligus memperluas wawasan tentang beragam cara pandang. Sikap saling menghargai juga membuka ruang bagi seseorang untuk mengevaluasi pemikirannya sendiri dan memahami alasan di balik pandangan orang lain.

Namun, keterbukaan tersebut tetap perlu dibarengi dengan pemahaman terhadap prinsip pribadi. Fia menilai seseorang perlu mengenali dan memahami nilai-nilai yang diyakininya sebelum mengeksplorasi pandangan berbeda agar proses belajar tidak membuatnya kehilangan pijakan.

“Tetapi menurutku dalam hal seperti ini yaitu melakukan aktivitas untuk mempertanyakan paham orang lain, tentu kita harus selesai dengan prinsip kita sendiri. Kita juga harus paham dulu tentang nilai-nilai Islam dan kalau kita udah selesai akan hal itu mau mengeksplor pandangan lain, kita nggak akan mudah terombang-ambing,” katanya.

Menurut Fia, kebiasaan bertabayyun, berpikir kritis, dan mengevaluasi pemahaman dapat menjadi bekal dalam menyikapi perbedaan, terutama ketika masyarakat berhadapan dengan berbagai informasi dan perdebatan di ruang digital.

Melalui sikap tersebut, perbedaan tidak harus berujung pada pertentangan. Sebaliknya, keberagaman pandangan dapat menjadi kesempatan untuk memperkaya pemahaman, memperkuat sikap saling menghormati, dan menjaga kehidupan sosial yang rukun. (