GORONTALO – Merawat toleransi antarumat beragama tidak selalu harus dilakukan melalui kegiatan besar. Hubungan baik dengan tetangga, saling berkunjung ketika hari raya, hingga ikut merasakan kegembiraan dalam perayaan keagamaan dapat menjadi kebiasaan sederhana untuk menjaga kerukunan di tengah keberagaman.
Sekretaris Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kota Gorontalo, Meske Repi, mengatakan toleransi dapat dibangun mulai dari lingkungan terdekat, terutama dengan membiasakan diri menghargai tetangga yang memiliki keyakinan berbeda.
“Contohnya di masyarakat, kita kerja sama dengan tetangga. Ada hari-hari raya besar, tentu kita saling silaturahmi. Kalau ada hari raya Idul Fitri, tetangga kita ya kita bisa salam-salaman,” ujar Meske dikutip dari laman rri.co.id, Senin (28/9).
Menurutnya, interaksi sederhana semacam itu dapat menjadi bagian penting dalam membangun hubungan sosial yang harmonis. Perbedaan agama tidak semestinya menjadi penghalang bagi warga untuk saling menyapa, bekerja sama, dan menjaga hubungan bertetangga.
Meske mencontohkan hal serupa dapat dilakukan ketika umat Kristiani merayakan Natal. Silaturahmi antarwarga, kata dia, merupakan salah satu cara sederhana untuk menunjukkan penghormatan terhadap pemeluk agama lain.
“Dan untuk hari raya Natal, untuk umat Kristiani, kita saling silaturahmi,” katanya.
Semangat menjaga kerukunan juga terlihat dalam berbagai kegiatan yang dilakukan pemerintah daerah pada momentum hari besar keagamaan. Pemerintah kota maupun provinsi, menurut Meske, telah membangun tradisi saling mengunjungi dan menyampaikan ucapan pada perayaan keagamaan.
“Contohnya ini sudah dilakukan oleh pemerintah kota maupun provinsi. Mereka keliling Safari Natal, Safari Idul Fitri, saling memberikan salam-salam pada hari raya besar,” jelasnya.
Bagi Meske, keterlibatan masyarakat dalam berbagai perayaan keagamaan juga menjadi gambaran bahwa keberagaman dapat menjadi ruang untuk memperkuat kebersamaan. Ia mencontohkan antusiasme warga ketika perayaan Imlek dan Cap Go Meh berlangsung di Gorontalo.
“Imlek, kita lihat kalau ada Imlek di sini, Cap Go Meh, itu luar biasa antusias masyarakat. Nah, itu sudah menunjukkan religi atau kerukunan antara umat beragama,” ungkap Meske.
Ia menilai, kerukunan tidak cukup hanya dibicarakan sebagai nilai, tetapi perlu diwujudkan melalui interaksi sehari-hari. Ketika masyarakat terbiasa saling menghargai dan hadir dalam kehidupan sosial satu sama lain, perbedaan keyakinan dapat tetap berjalan berdampingan tanpa mengurangi rasa kebersamaan.
Karena itu, Meske mengajak masyarakat terus merawat keberagaman melalui sikap saling menghormati. Menurutnya, kebiasaan sederhana yang dilakukan secara konsisten dapat menjadi fondasi kuat bagi kehidupan masyarakat yang rukun.
“Disitulah kita saling memupuk perbedaan kita,” pungkasnya. (
Damailah Indonesiaku Bersama Cegah Terorisme!