PLN Riau-Kepri Bekali Pegawai Kenali Narasi Radikal di Ruang Digital

PEKANBARU – Arus informasi di media sosial membuat penyebaran berbagai narasi berlangsung semakin cepat, termasuk konten yang mengandung intoleransi dan kekerasan. Karena itu, kemampuan memilah informasi menjadi salah satu langkah penting untuk mencegah penyebaran paham radikal di lingkungan kerja.

PT PLN (Persero) Unit Induk Distribusi Riau dan Kepulauan Riau (UID RKR) membekali pegawainya dengan pemahaman mengenai pencegahan paham radikal dan terorisme. Edukasi tersebut sekaligus diarahkan untuk meningkatkan kewaspadaan pegawai terhadap berbagai bentuk narasi yang berpotensi memengaruhi masyarakat melalui ruang digital.

Sosialisasi Pencegahan Paham Radikal Terorisme digelar di Ruang Rapat Bintan, Kantor PLN UID RKR, Selasa (15/9/2026), dengan menghadirkan Kanit Intelkam Polresta Pekanbaru AKP Putra Adin Merdeka sebagai pemateri.

General Manager PLN UID Riau dan Kepulauan Riau Didik Wicaksono mengatakan pencegahan radikalisme tidak dapat hanya mengandalkan aparat keamanan. Kesadaran individu dan kepedulian lingkungan kerja juga diperlukan untuk mengenali potensi penyebaran paham tersebut sejak dini.

“Melalui kegiatan ini, kami ingin meningkatkan pemahaman dan kewaspadaan seluruh insan PLN agar mampu mengenali potensi penyebaran paham radikal sejak dini. Mari bersama menciptakan lingkungan kerja yang aman, harmonis, dan menjunjung nilai-nilai kebangsaan,” ujar Didik.

Menurut Didik, perkembangan teknologi harus diimbangi dengan kemampuan berpikir kritis. Pegawai perlu berhati-hati ketika menerima maupun membagikan informasi, terutama informasi yang sumber dan kebenarannya belum dapat dipastikan.

Kehati-hatian tersebut menjadi semakin penting karena informasi di media sosial dapat menyebar dengan cepat. Konten yang awalnya terlihat sebagai informasi biasa dapat memuat narasi yang mendorong intoleransi atau kekerasan.

AKP Putra Adin Merdeka mengatakan upaya pencegahan dapat dimulai dari kesadaran setiap individu. Literasi informasi menjadi salah satu kemampuan penting agar seseorang tidak mudah menerima narasi yang belum terverifikasi.

“Pencegahan dapat dimulai dari diri sendiri dengan tidak mudah percaya terhadap informasi yang belum terverifikasi serta mengenali narasi yang mengarah pada intoleransi dan kekerasan,” jelas Putra.

Selain meningkatkan kewaspadaan terhadap informasi digital, Putra mengajak pegawai PLN memperhatikan kondisi lingkungan sekitar. Apabila menemukan hal yang berpotensi mengganggu keamanan dan ketertiban, informasi tersebut dapat disampaikan melalui jalur yang sesuai.

Sosialisasi kemudian dilanjutkan dengan sesi diskusi dan tanya jawab. Para pegawai mendapat kesempatan memahami karakteristik paham radikal, pola penyebarannya, serta langkah pencegahan yang dapat dilakukan dalam kehidupan sehari-hari.