Mempererat Toleransi dan Menangkal Radikalisme Melalui Silaturahmi Lintas Umat di Kabupaten Yalimo

Papua – Upaya memperkokoh rasa kebangsaan dan membentengi masyarakat dari bahaya paham intoleransi serta radikalisme terus dijalankan secara nyata oleh aparat TNI di pelosok perbatasan Papua. Personel Pos Benawa Satgas Pamtas Kewilayahan Yonif 645/Gardatama Yudha menggelar kegiatan Komunikasi Sosial (Komsos) berbasis keagamaan bersama masyarakat Muslim di Desa Ampera, Distrik Benawa, Kabupaten Yalimo. Kegiatan ini dirancang tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan spiritual warga minoritas Muslim dan para pekerja pendatang, tetapi juga untuk merawat persatuan di tengah keberagaman. 

“Saya bersama seluruh jajaran Satgas Yonif 645/GTY berkomitmen penuh untuk memfasilitasi kebutuhan ibadah saudara-saudara kita umat Muslim yang menjadi minoritas di Distrik Benawa ini. Saya memandang bahwa kegiatan ini bukan sekadar rutinitas keagamaan biasa, melainkan sebuah jembatan silaturahmi yang sangat krusial untuk mempererat tali persaudaraan antara TNI, warga lokal, dan masyarakat pendatang agar tidak ada celah bagi masuknya paham pemecah belah,” tegas Dankipur 3 Satgas Yonif 645/GTY Kapten Inf Febri Ridho Nugroho, S.Tr.Han saat memimpin kegiatan di Kompleks Ramil Benawa, Minggu (13/9).

Acara yang berlangsung dengan penuh kehangatan tersebut diisi dengan perbincangan kekeluargaan, ibadah khusyuk bersama, serta diakhiri dengan santap siang bersama. Kehadiran TNI dalam merangkul kelompok minoritas di pedalaman menjadi bukti nyata bahwa keberagaman adalah kekuatan bangsa, bukan pemisah. 

“Saya meyakini bahwa benteng paling ampuh dalam menghadapi infiltrasi radikalisme dan propaganda intoleransi adalah dengan memperkuat dialog terbuka serta rasa saling menghargai di tingkat tapak. Ketika kita duduk dan makan bersama tanpa memandang perbedaan suku maupun agama, kita sedang meruntuhkan narasi kebencian yang sering dimanfaatkan oleh kelompok ekstremis untuk memicu disintegrasi. Kebersamaan sederhana ini menjadi instrumen yang sangat efektif untuk memelihara kedamaian di Kabupaten Yalimo,” lanjut Febri.

Menurutnya, keharmonisan yang dibangun oleh Satgas Yonif 645/GTY memberi rasa aman sekaligus menangkal potensi konflik sosial yang kerap ditunggangi oleh paham-paham radikal. Masyarakat Desa Ampera menyambut baik kedatangan Febri beserta jajarannya yang sudah mengayomi seluruh warga tanpa membeda-bedakan latar belakang agama. Di tengah isu intoleransi yang sering diembuskan oleh pihak-pihak tidak bertanggung jawab. 

“Kepedulian prajurit TNI di Desa Ampera ini memperlihatkan wajah Indonesia yang sebenarnya, yaitu saling melindungi dan penuh toleransi. Menurut saya, suasana damai seperti inilah yang membuat masyarakat merasa tenang dan mampu membentengi diri dari pengaruh ajaran ekstrem yang ingin merusak kerukunan warga di Distrik Benawa,” imbuh Febri.

Pencegahan radikalisme dan terorisme tidak hanya dilakukan melalui penindakan hukum, tetapi juga lewat pendekatan humanis yang menyentuh hati masyarakat di daerah rawan. Melalui komunikasi sosial yang inklusif ini, sinergi antara TNI dan rakyat semakin kokoh dalam menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. 

“Saya berharap agar persaudaraan erat yang telah terbangun di tanah Yalimo ini dapat terus dipelihara dan menjadi contoh nyata penerapan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari. Kami dari Satgas Yonif 645/GTY akan terus hadir di tengah masyarakat sebagai pelindung, pemersatu, dan pengayom bagi semua golongan. Jika rasa saling menghormati dan kerukunan lintas agama sudah mengakar kuat di benak setiap warga, maka narasi intoleransi, radikalisme, maupun terorisme tidak akan pernah memiliki ruang untuk tumbuh di tanah Papua ini,” pungkas Febri.