AI Ubah Wajah Propaganda Jihadisme, Konten ISIS Kini Dikemas Jadi Kartun dan Meme Bergaya Hiburan

LONDON – Propaganda kelompok jihadisme memasuki bentuk baru di tengah perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI). Simpatisan Al Qaeda dan Islamic State (ISIS) kini memanfaatkan AI generatif untuk mengemas kembali materi propaganda menjadi video kartun, meme hingga konten bergaya hiburan yang lebih mudah masuk ke ruang media sosial.

Perubahan tersebut memunculkan istilah “Slop Jihad”, yakni konten propaganda jihadisme yang dibuat atau dimodifikasi dengan bantuan AI dan dikemas menyerupai konten internet populer. Strategi ini dinilai membuat pesan ekstremisme menjadi lebih samar karena tidak selalu tampil dalam bentuk propaganda yang selama ini mudah dikenali.

Temuan itu diungkap Institute for Strategic Dialogue (ISD) dalam laporan terbarunya, sebagaimana dilansir WIRED pada 9 September 2026. Peneliti ISD mengidentifikasi sedikitnya 150 video yang tersebar melalui 71 akun TikTok. Secara keseluruhan, konten tersebut telah ditonton lebih dari 5,4 juta kali.

Yang menjadi perhatian peneliti bukan hanya jumlah penonton, tetapi perubahan cara materi propaganda tersebut dikemas.

Materi lama yang sebelumnya tampil sebagai propaganda jihadisme konvensional diolah kembali menjadi animasi, meme, atau video dengan gaya visual yang lebih akrab bagi pengguna media sosial.

Salah satu temuan ISD berupa reproduksi kartun dari video eksekusi ISIS yang telah beredar lebih dari satu dekade lalu. Dalam versi baru, materi tersebut dikemas menggunakan karakter kartun populer sehingga tampilannya berbeda jauh dari bentuk aslinya.

Peneliti juga menemukan akun yang mengadaptasi buletin mingguan ISIS, al-Naba, ke dalam format video bergaya anime.

Ketua Riset Global Islamisme dan Kontraterorisme ISD, Moustafa Ayad, mengatakan fenomena tersebut masih berada dalam tahap perkembangan.

“Ini baru dan masih berkembang; belum mencapai puncaknya,” ujar Ayad.

Menurut Ayad, penggunaan AI telah membawa perubahan signifikan terhadap bentuk visual propaganda yang dibuat dan disebarkan oleh pendukung kelompok jihadisme.

TikTok menjadi salah satu ruang utama penyebaran

Dalam penelitian ISD, TikTok menjadi platform yang paling banyak ditemukan memuat konten Slop Jihad. Peneliti menyoroti mekanisme rekomendasi pada fitur For You Page yang memungkinkan suatu konten menjangkau pengguna berdasarkan pola minat dan interaksi mereka.

Kondisi tersebut menimbulkan tantangan tersendiri. Konten yang dikemas sebagai meme atau animasi dapat terlihat seperti hiburan biasa sebelum pengguna menyadari adanya pesan ideologis di dalamnya.

Selain TikTok, sejumlah konten serupa juga ditemukan di Instagram dan Facebook. Namun, jumlahnya dalam sampel penelitian ISD jauh lebih kecil dibandingkan TikTok.

Perkembangan AI generatif juga membuat proses produksi konten menjadi lebih mudah. Simpatisan tidak harus memiliki kemampuan penyuntingan video tingkat tinggi untuk mengubah materi propaganda lama menjadi bentuk baru.

Materi yang sudah tersedia dapat dimodifikasi dengan bantuan perangkat AI, kemudian disesuaikan dengan format dan budaya visual yang berkembang di media sosial.

Dengan demikian, teknologi tersebut bukan hanya mempercepat produksi, tetapi juga memperluas kemungkinan penyebaran propaganda kepada kelompok pengguna yang sebelumnya mungkin tidak menjadi sasaran utama propaganda jihadisme konvensional.

Bukan kali pertama AI digunakan

Pemanfaatan AI oleh jaringan yang berafiliasi dengan ISIS sebenarnya bukan fenomena baru. WIRED melaporkan, pada 2024, program berita yang berafiliasi dengan ISIS, News Harvest, telah menggunakan penyiar berbasis AI untuk memproduksi dan menyebarkan video propaganda dengan biaya serta waktu produksi yang lebih rendah.

Namun, perkembangan Slop Jihad menunjukkan perubahan pada sisi lain, yakni bagaimana propaganda tersebut dibuat agar menyatu dengan ekosistem konten digital sehari-hari.

Respons di kalangan pendukung ekstremis sendiri tidak sepenuhnya seragam. Sebagian pendukung lama menolak estetika Slop Jihad karena dianggap terlalu berbeda dari propaganda resmi dan gaya propaganda tradisional.

Di sisi lain, sejumlah akun yang sebelumnya aktif menyebarkan propaganda konvensional mulai ikut membagikan konten yang dibuat atau dimodifikasi menggunakan AI.

Perubahan tersebut menjadi tantangan baru bagi upaya pencegahan ekstremisme. Ketika propaganda tidak lagi selalu hadir dalam bentuk simbol, narasi, dan visual yang mudah dikenali, kemampuan pengguna untuk memahami konteks serta memilah informasi di ruang digital menjadi semakin penting.

Fenomena Slop Jihad dengan demikian menunjukkan bahwa perkembangan AI tidak hanya membawa perubahan dalam produksi konten kreatif, tetapi juga dapat dimanfaatkan untuk mengubah kemasan pesan ekstremisme agar lebih sesuai dengan kebiasaan konsumsi media generasi digital.