JAMBI – Pemerintah Kota Jambi tidak ingin kecolongan. Di tengah masifnya penyebaran paham intoleran di media sosial, Pemkot mengajak warga untuk kembali memperkuat fondasi paling dasar: kerukunan.
Pesan itu disampaikan Wali Kota Jambi, Maulana, saat membuka sosialisasi bahaya radikalisme dan terorisme di Aula Bapperida, Kota Baru, Rabu.
“Ruang bersama menjadi terpecah dan kepercayaan antarwarga menurun jika kerukunan rapuh,” kata Maulana.
Menurutnya, Kota Jambi yang dihuni warga dengan latar belakang beragam sangat rentan jika jarak antar kelompok dibiarkan melebar. Intoleransi dan polarisasi, sekecil apapun, bisa menjadi pintu masuk konflik.
Sosialisasi bertema “Tolak Radikalisme dan Terorisme, Bersama Wujudkan Kota Jambi yang Aman, Damai, dan Toleran” ini sengaja menghadirkan narasumber langsung dari Kasatgaswil Jambi Densus 88 Antiteror Polri, Kombes Pol Reri Diatra, untuk membongkar bagaimana radikalisme bekerja.
Maulana menjelaskan, radikalisme tidak lahir tiba-tiba. Ia tumbuh dari sikap intoleran, eksklusif, suka menebar kebencian, hingga pembenaran terhadap kekerasan.
Karena itu, pencegahannya tidak bisa hanya diserahkan ke aparat.
Salah satu senjata Pemkot adalah program Kampung Bahagia. Program ini mendorong warga membangun kembali ikatan sosial yang mulai luntur lewat gotong royong, musyawarah, dan silaturahmi rutin.
Pesan khusus ia tujukan untuk generasi muda.
“Jaga toleransi dan bijak bermedia sosial. Jangan sampai ikut menyebarkan informasi provokatif yang kalian sendiri tidak tahu kebenarannya,” pesannya.
Kepala Badan Kesbangpol Kota Jambi, Raden Jufri, menambahkan kegiatan ini memang dirancang untuk meningkatkan kemampuan warga menangkal paham radikal, bukan sekadar tahu bahayanya.
Kegiatan ini turut dihadiri FKUB, Forum Kewaspadaan Dini Masyarakat (FKDM), perangkat daerah, mahasiswa dari berbagai kampus, serta tokoh masyarakat, agama, dan adat.
Damailah Indonesiaku Bersama Cegah Terorisme!