Satu-satunya SMA dengan 5 Agama, SMAN 2 Bondowoso Jadi Laboratorium Moderasi

BONDOWOSO – Di satu sekolah, ada siswa yang Shalat Dhuha dan membaca Yasin setiap Jumat pagi. Di ruangan sebelah, tepatnya di ruang literasi, siswa lain khusyuk membaca kitab suci sesuai agamanya masing-masing. Pemandangan ini bukan di sekolah luar negeri, tapi di SMA Negeri 2 Bondowoso.

Keunikan itulah yang membuat sekolah ini dipilih Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kabupaten Bondowoso sebagai lokasi pembinaan moderasi beragama untuk 60 pelajar SMP dan MTs, Kamis (10/9/2026).

Ketua FKUB Bondowoso, Mas’ud Ali, mengatakan ini adalah strategi pencegahan. Jika tahun lalu FKUB menggelar kemah moderasi untuk tingkat SMA, tahun ini sasarannya adalah pelajar SMP dan MTs.

“Kalau tidak dibekali pemahaman keagamaan yang utuh sejak dini, mereka bisa bersentuhan dengan konflik di media sosial. Padahal interaksi mereka sekarang sangat cepat,” ujar Mas’ud dikutip dari laman rri.co.id.

Menurutnya, Bondowoso punya potensi konflik yang sama dengan daerah lain jika keberagamannya tidak dirawat. Ada lima agama, berbagai suku dan ras yang hidup berdampingan.

“Perbedaan itu kalau tidak dirawat dengan baik, Bondowoso bisa menjadi wilayah konflik seperti daerah lain. Makanya kita ajak mereka duduk bersama, berpikir untuk kemajuan bersama. Soal keyakinan itu ranah pribadi, tidak boleh dibawa untuk saling menjatuhkan di ruang publik,” tegasnya.

Berbeda dengan program SMA yang sampai pada deklarasi kader moderasi, program untuk SMP-MTs ini fokus pada penanaman nilai dasar. Para peserta tidak hanya diminta mendengarkan, tapi pulang membawa misi.

“Kami berpesan, jadilah duta toleransi di sekolah masing-masing,” kata Mas’ud.

Misi itu disambut baik oleh Kepala SMAN 2 Bondowoso, Kholifah Nur Azizah. Ia mengaku bangga sekolahnya disebut sebagai sekolah moderasi.

“Kita satu-satunya SMA yang siswanya ada lima agama. Jadi kita memang biasakan itu. Supaya tidak ada yang termarginalkan, saat yang muslim Dhuha dan Yasin, yang nonmuslim kita siapkan ruang dan guru agamanya untuk kegiatan mereka sendiri,” ungkap Kholifah.

Bahkan, peringatan hari besar keagamaan nonmuslim pun difasilitasi sekolah selama bertahun-tahun.

“Negara kita dibentuk dari perbedaan. Visi kami menjadikan generasi berakhlak mulia. Indikatornya sederhana: tahu bagaimana berakhlak pada temannya, pada gurunya, bahkan saat berlalu lintas,” tuturnya.

Pesan-pesan kerukunan itu bahkan ditempel di dinding kelas dan koridor sekolah.

Ke depan, Kholifah berharap kegiatan ini tidak berhenti di seminar. Ia mengusulkan tindak lanjut berupa Forum Diskusi Kelompok (FGD) dan karya jurnalistik.

“Suruh mereka buat karya tulis. Apa yang mereka rasakan, apa yang mereka lihat di sekolah dan masyarakat, dan apa harapan mereka agar negeri ini tetap harmoni. Itu RTL yang paling nyata,” pungkasnya.