Belajar Moderasi Beragama dari Wirotaman, Mahasiswa UM Diajak Melihat Praktik Kerukunan

Malang — Moderasi beragama tidak cukup dipahami melalui teori di ruang kuliah. Nilai tersebut perlu dilihat dan dipelajari dari praktik kehidupan masyarakat yang mampu mengelola perbedaan agama secara damai.

Pandangan itu menjadi salah satu pesan dalam Kegiatan Pemantapan Wawasan dan Perilaku Moderasi Beragama Mahasiswa yang digelar UPT Laboratorium Pendidikan Agama Universitas Negeri Malang (LPA UM) di Desa Wirotaman, Kecamatan Ampelgading, Kabupaten Malang, Selasa (8/9/2026).

Kegiatan tersebut mempertemukan mahasiswa dan sivitas akademika UM dengan pemuka agama serta masyarakat Desa Wirotaman. Sejumlah dosen dari berbagai departemen dan program studi serta tenaga kependidikan juga turut terlibat.

Ketua LPA UM Dr. Achmad Sultoni, S.Ag., M.Pd.I., mengatakan kunjungan ke Wirotaman menjadi kesempatan bagi sivitas akademika untuk melihat secara langsung bagaimana kerukunan dibangun dan dipelihara di tengah masyarakat yang beragam.

Menurut dia, pembelajaran tentang kerukunan tidak cukup berhenti pada konsep yang disampaikan di lingkungan akademik. Mahasiswa perlu melihat bagaimana nilai tersebut diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

“Bagi kami dari dunia akademis, secara teori ‘kerukunan’ itu mudah, tetapi kami yakin praktiknya tidak semudah teori,” ujar Sultoni.

Karena itu, Desa Wirotaman dipilih sebagai ruang pembelajaran lapangan untuk memahami praktik moderasi beragama secara lebih konkret. Mahasiswa tidak hanya diajak mengetahui konsep keberagaman, tetapi juga mempelajari bagaimana masyarakat membangun hubungan sosial di tengah perbedaan keyakinan.

LPA UM ingin menggali pengalaman masyarakat Wirotaman dalam mengelola keberagaman agama sehingga kehidupan sosial dapat berlangsung secara rukun, damai, dan sejahtera.

Dalam kegiatan tersebut, mahasiswa juga mendapatkan kesempatan berinteraksi dengan para tokoh agama dan unsur masyarakat setempat. Pertemuan lintas agama itu menjadi bagian penting dari proses pembelajaran agar mahasiswa memahami bahwa keberagaman bukan sekadar konsep, melainkan realitas sosial yang harus dikelola bersama.

Pemerintah Desa Wirotaman turut menyambut kegiatan tersebut. Sekretaris Desa Wirotaman, Slamet, mewakili Kepala Desa sekaligus membuka rangkaian kegiatan mahasiswa UM.

Dalam sambutannya, Slamet menekankan pentingnya kehadiran para pendamping dan tokoh dari berbagai latar belakang agama. Unsur Islam, Buddha, Kristen, Hindu, serta tokoh agama setempat hadir dalam kegiatan tersebut sebagai gambaran keberagaman yang hidup di Desa Wirotaman.

Kehadiran berbagai unsur agama itu sekaligus memberikan pengalaman langsung kepada mahasiswa mengenai pentingnya membangun ruang perjumpaan di tengah perbedaan.

Bagi UM, pembelajaran semacam ini menjadi bagian dari upaya memperkuat wawasan sekaligus perilaku moderasi beragama mahasiswa. Kampus tidak hanya berperan memberikan pengetahuan secara akademik, tetapi juga mendorong mahasiswa belajar dari pengalaman masyarakat.

Kegiatan di Wirotaman juga membuka ruang kolaborasi antara dunia pendidikan tinggi dan komunitas masyarakat. Pertukaran pengalaman tersebut diharapkan dapat memperkaya pemahaman mahasiswa mengenai cara menjaga kerukunan sekaligus mengelola keberagaman secara bijak.

Dengan demikian, moderasi beragama tidak berhenti sebagai materi pembelajaran di kampus, tetapi dapat diterjemahkan menjadi sikap dan perilaku dalam kehidupan bermasyarakat.