PONTIANAK – Pemerintah Kota Pontianak memperkuat literasi digital dan moderasi beragama sebagai benteng menghadapi derasnya arus informasi di era media sosial.
Upaya itu dilakukan melalui pembinaan 400 pengurus lembaga keagamaan se-Kota Pontianak yang digelar pada Senin (8/9/2026).
Wali Kota Pontianak, Edi Rusdi Kamtono, mengatakan tantangan kerukunan saat ini tidak lagi hanya di lapangan, tetapi juga di ruang digital. Media sosial yang memiliki pengaruh besar bisa menjadi pisau bermata dua.
“Literasi dan toleransi sangat penting agar kehidupan masyarakat tetap harmonis di tengah perkembangan zaman,” ujar Edi saat membuka kegiatan.
Menurutnya, di era digital masyarakat dituntut memiliki kedewasaan berpikir dan kemampuan menyaring informasi. Tanpa itu, hoaks dan isu provokatif di media sosial sangat mudah memicu kesalahpahaman dan perpecahan.
“Media sosial ini rawan juga, tetapi kadang-kadang juga bisa menjadi ruang pencerahan. Karena itu perlu kedewasaan, wawasan, dan logika berpikir,” katanya.
Edi mengingatkan, untuk menjaga harmoni, warga harus kembali pada nilai dasar bersama. Dalam konteks berbangsa, Pancasila menjadi pegangan, sementara dalam beragama, kitab suci dan ajaran masing-masing menjadi pedoman hidup.
Pemkot Pontianak, kata dia, berkomitmen menjamin kebebasan beragama yang aman dan nyaman bagi seluruh warga.
“Pemkot berupaya selalu memberikan ruang kebebasan beragama. Kuncinya adalah literasi, toleransi, dan bagaimana kita menjadikan kota ini harmonis, aman, sejahtera, serta tenang dalam beribadah,” ucapnya.
Senada, Kepala Kantor Kemenag Kota Pontianak, Ruslan, menegaskan pembinaan keagamaan harus mengedepankan semangat toleransi dan kekeluargaan. Hal itu sejalan dengan visi Kota Pontianak sebagai kota yang bersahabat.
“Sesuai visi Wali Kota, yaitu mewujudkan Kota Pontianak sebagai kota yang bersahabat, maka yang kita kedepankan adalah semangat toleransi dan moderasi beragama,” kata Ruslan.
Ia menilai, moderasi beragama adalah kunci menjaga kota tetap aman dan damai. Jika kerukunan terjaga, pembangunan akan berjalan baik lahir maupun batin.
“Ini kunci untuk melaksanakan pembangunan. Jika Kota Pontianak tidak aman dan damai, tentu sulit mewujudkan pembangunan,” pungkasnya.
Damailah Indonesiaku Bersama Cegah Terorisme!