371 Guru BK SMP di Bandung Dibekali Strategi Cegah Kekerasan dan Radikalisme

BANDUNG — Guru Bimbingan dan Konseling (BK) dinilai memiliki posisi penting dalam mencegah kekerasan, intoleransi, hingga paparan radikalisme di lingkungan sekolah. Karena itu, guru BK tidak hanya dituntut memahami persoalan siswa, tetapi juga mampu menjadi sosok yang dipercaya untuk menjaga setiap cerita dan masalah pribadi peserta didik.

Pesan tersebut disampaikan Bupati Bandung Dadang Supriatna saat membuka sosialisasi pencegahan tindak kekerasan dan radikalisme terhadap anak di Gedung Mohamad Toha, Kompleks Pemkab Bandung, Soreang, Sabtu (5/9/2026).

Kegiatan bertema peningkatan peran guru BK dalam membangun lingkungan pendidikan yang ramah, aman, inklusif, dan tangguh terhadap radikalisme itu diikuti 371 guru BK SMP negeri dan swasta serta perwakilan kepala sekolah SMP se-Kabupaten Bandung.

Kegiatan digelar Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DALDUKPPA) bersama Dinas Pendidikan Kabupaten Bandung. Ketua TP PKK Kabupaten Bandung Emma Dety Permanawati dan perwakilan Densus 88 Mabes Polri turut menjadi narasumber.

Guru BK Harus Mampu Mengelola Diri

Dadang menekankan, guru BK harus memiliki kematangan pribadi sebelum memberikan pendampingan kepada siswa. Menurutnya, ungkapan “selesai dengan diri sendiri” penting karena guru BK akan berhadapan dengan berbagai persoalan dan cerita pribadi anak.

“Guru BK harus sudah selesai dengan dirinya sendiri. Ada beberapa rahasia anak yang harus disimpan guru BK. Jangan sampai malah melakukan bullying atau mengekspos persoalan anak di media sosial karena ini sangat berbahaya,” kata Dadang.

Menurut dia, persoalan yang disampaikan siswa kepada guru BK merupakan bagian dari kepercayaan yang harus dijaga. Membuka masalah pribadi anak ke ruang publik justru berpotensi memperburuk kondisi psikologis maupun sosial siswa.

Karena itu, guru BK perlu memiliki kemampuan membangun komunikasi yang sehat sekaligus menciptakan suasana yang membuat siswa merasa aman ketika hendak menyampaikan persoalan yang dihadapinya.

Kenali Siswa, Bangun Kepercayaan

Dadang mengatakan guru BK idealnya tidak hanya hadir ketika siswa sudah menghadapi masalah. Mereka perlu mengenali karakter peserta didik dan membangun kedekatan sejak awal.

Dengan mengenal siswa secara lebih baik, guru BK diharapkan dapat mengetahui perubahan perilaku yang membutuhkan perhatian sekaligus menjadi tempat pertama bagi anak untuk mendapatkan pendampingan.

“Guru BK harus mengenali karakter para siswa satu per satu. Bangun kedekatan dan kepercayaan sehingga anak merasa aman ketika bercerita,” ujarnya.

Ia juga mengingatkan guru BK untuk menghindari sikap yang dapat memperkeruh persoalan siswa, termasuk rasa iri, hasutan, maupun kebiasaan membocorkan persoalan pribadi anak.

“Guru BK tidak boleh punya rasa menghasut, tidak punya rasa iri, dan tidak punya rasa membocorkan rahasia anak,” tegas Dadang.

Dadang mengapresiasi pelaksanaan sosialisasi tersebut karena pencegahan kekerasan dan radikalisme membutuhkan keterlibatan banyak pihak, termasuk tenaga pendidik yang berinteraksi langsung dengan siswa.

Menurutnya, lingkungan sekolah yang ramah, aman, dan inklusif dapat menjadi salah satu fondasi penting untuk membangun ketahanan anak dari berbagai pengaruh negatif.

Peran guru BK menjadi semakin strategis karena mereka berada di posisi yang memungkinkan terjadinya komunikasi lebih personal dengan siswa.

Melalui pendampingan yang tepat, guru BK diharapkan mampu membantu siswa menghadapi persoalan, mengembangkan karakter positif, menghargai perbedaan, sekaligus mencegah mereka terjerumus pada perilaku kekerasan maupun paham yang bertentangan dengan nilai kebangsaan.