LOMBOK TENGAH — Pengembangan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB), tidak hanya diarahkan untuk memperkuat sektor pariwisata dan ekonomi. Kehadiran fasilitas peribadatan bagi umat dari berbagai agama juga mulai didorong sebagai bagian dari pembangunan kawasan yang inklusif dan menghargai keberagaman.
Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kanwil Kemenag) NTB bersama pemerintah daerah, tokoh lintas agama, dan PT Pengembangan Pariwisata Indonesia atau InJourney Tourism Development Corporation (ITDC) membahas rencana penguatan fasilitas rumah ibadah di kawasan Mandalika. Pembahasan tersebut berlangsung dalam audiensi di Ruang Rapat Kantor ITDC-KEK Mandalika, Desa Kuta, Kecamatan Pujut, Jumat (22/8/2026).
Forum tersebut mempertemukan berbagai unsur, di antaranya Pembimas Katolik Kanwil Kemenag NTB, Bupati Lombok Tengah, Sekda, Majelis Ulama Indonesia (MUI), Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB), serta tokoh-tokoh agama.
Pertemuan itu tidak hanya membahas kebutuhan tempat ibadah, tetapi juga membuka peluang pengembangan wisata religi yang dapat dinikmati masyarakat dari berbagai latar belakang keyakinan.
Pembimas Katolik Kanwil Kemenag NTB menyampaikan pentingnya memastikan fasilitas peribadatan di kawasan Mandalika tersedia secara layak, nyaman, representatif, dan mudah dijangkau oleh umat.
Keberadaan rumah ibadah dinilai bukan sekadar pelengkap kawasan wisata. Fasilitas tersebut merupakan bagian dari kebutuhan masyarakat sekaligus bentuk penghormatan terhadap kebebasan menjalankan ibadah sesuai agama dan keyakinan masing-masing.
Dalam konteks kawasan wisata internasional seperti Mandalika, ketersediaan fasilitas peribadatan lintas agama juga dapat menjadi bagian dari upaya menghadirkan destinasi yang ramah bagi wisatawan dengan latar belakang yang beragam.
Rencana pembangunan kompleks rumah ibadah tersebut mendapat dukungan dari ITDC. General Manager ITDC Mandalika I Made Pari Wijaya menyatakan kesiapan perusahaan mendukung pendirian rumah ibadah bagi masing-masing agama.
ITDC juga disebut telah menyiapkan lahan di sekitar kawasan yang dikelolanya untuk mendukung rencana pembangunan tersebut.
Dukungan juga disampaikan Bupati Lombok Tengah H. Lalu Pathul Bahri. Ia menegaskan pemerintah daerah mendukung pembangunan fasilitas peribadatan dan menyebut rencana tersebut telah memperoleh dukungan dari berbagai unsur masyarakat.
MUI dan FKUB Lombok Tengah turut memberikan dukungan terhadap rencana pembangunan kompleks rumah ibadah tersebut. Para tokoh agama berharap proses pembangunan dapat segera direalisasikan sehingga kebutuhan umat dan penguatan kerukunan dapat berjalan bersamaan.
Kehadiran rumah ibadah lintas agama dalam satu kawasan dinilai memiliki nilai lebih dari sekadar fungsi peribadatan. Jika dikembangkan dengan baik, kawasan tersebut dapat menjadi ruang yang memperlihatkan praktik toleransi dalam kehidupan masyarakat.
Konsep itu juga berpotensi dikembangkan menjadi bagian dari wisata religi di Mandalika. Wisatawan tidak hanya mendapatkan pengalaman menikmati destinasi alam dan berbagai kegiatan pariwisata, tetapi juga dapat melihat bagaimana keberagaman agama ditempatkan sebagai bagian dari kehidupan sosial di kawasan tersebut.
Mandalika pun berpeluang menampilkan wajah pariwisata NTB yang terbuka dan inklusif. Keberadaan fasilitas ibadah bagi berbagai agama dapat menjadi simbol bahwa pembangunan kawasan wisata berjalan beriringan dengan penghormatan terhadap keberagaman.
Realisasi rencana tersebut membutuhkan koordinasi antara pemerintah daerah, Kemenag, ITDC, tokoh agama, dan masyarakat. Kolaborasi lintas sektor dinilai menjadi kunci agar pembangunan fasilitas peribadatan dapat berjalan sesuai kebutuhan umat sekaligus memperhatikan tata ruang dan pengembangan kawasan.
Jika terealisasi, kompleks rumah ibadah di Mandalika tidak hanya berfungsi sebagai tempat menjalankan ibadah, tetapi juga dapat menjadi bagian dari ekosistem sosial kawasan wisata.
Pesan yang ingin dibangun adalah bahwa kemajuan pariwisata tidak harus berjarak dengan nilai-nilai toleransi. Justru, keberagaman dan kerukunan dapat menjadi kekuatan sosial yang ikut menopang keberlanjutan destinasi.
Dengan pendekatan tersebut, Mandalika diharapkan tidak hanya semakin dikenal sebagai destinasi wisata berkelas dunia, tetapi juga sebagai kawasan yang mampu mempertemukan kepentingan ekonomi, kebutuhan spiritual, dan nilai kerukunan dalam satu ruang yang inklusif.
Damailah Indonesiaku Bersama Cegah Terorisme!