SURABAYA — Ancaman intoleransi, radikalisme, ekstremisme, dan terorisme dinilai tidak lagi hanya hadir melalui pertemuan tertutup. Perkembangan ruang digital membuat narasi kekerasan dan konten ekstrem dapat menjangkau generasi muda melalui aktivitas sehari-hari di internet.
Pesan itu disuarakan puluhan pemuda yang tergabung dalam Gerakan Pemuda Peduli Masyarakat Jawa Timur melalui aksi flashmob di kawasan Kebun Binatang Surabaya (KBS), Rabu (26/8/2026).
Aksi yang berlangsung sekitar pukul 15.00-17.00 WIB tersebut dikemas sebagai kampanye publik untuk meningkatkan kewaspadaan masyarakat terhadap potensi penyebaran paham ekstrem di kalangan anak muda.
Para peserta mengenakan jas almamater, pakaian pelajar, hingga atribut yang merepresentasikan pemuda dan tokoh agama. Mereka membentangkan spanduk, membagikan selebaran, serta menyanyikan lagu-lagu kebangsaan sebagai bagian dari pesan menjaga persatuan dan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Koordinator lapangan aksi, Abdur Rozaq, mengatakan pola penyebaran paham ekstrem kini ikut memanfaatkan ruang digital yang sangat dekat dengan kehidupan anak dan remaja.
“Ancaman radikalisme kini tidak hanya melalui penyebaran tertutup, tetapi juga merambah ruang digital anak-anak kita. Karena itu, orang tua, guru, dan masyarakat perlu meningkatkan pengawasan serta membangun literasi digital agar anak-anak tidak mudah terpengaruh narasi kekerasan,” ujar Rozaq di sela-sela aksi.
Salah satu perhatian peserta aksi adalah fenomena True Crime Community (TCC). Mereka mendorong orang tua dan pihak sekolah lebih memahami aktivitas anak di media sosial, termasuk jenis konten yang dikonsumsi dan interaksi yang mereka lakukan di dunia maya.
Menurut peserta aksi, persoalan tersebut perlu dilihat secara hati-hati. Tidak semua pembahasan mengenai kejahatan atau kasus kriminal berkaitan dengan ekstremisme. Namun, konten yang mengagungkan atau menormalisasi kekerasan dinilai perlu menjadi perhatian apabila dikonsumsi secara berlebihan, khususnya oleh anak dan remaja.
Karena itu, pengawasan dinilai tidak cukup hanya berupa pembatasan akses. Komunikasi antara orang tua dan anak juga diperlukan agar anak memiliki ruang aman untuk menceritakan pengalaman mereka di dunia digital.
Peserta aksi juga mengingatkan masyarakat agar tidak mudah menerima informasi maupun ajakan yang beredar di media sosial. Kemampuan memeriksa sumber informasi dan memahami konteks dinilai penting untuk mencegah anak muda menjadi sasaran propaganda ekstrem.
Selain menyuarakan kewaspadaan terhadap rekrutmen daring, massa menyampaikan sejumlah pesan kebangsaan. Mereka menolak ideologi khilafah yang dinilai bertentangan dengan Pancasila dan prinsip kehidupan berbangsa, menegaskan Pancasila dan UUD 1945 sebagai dasar negara, serta menolak segala bentuk terorisme yang mengatasnamakan agama.
Namun, pesan utama aksi tersebut diarahkan pada pentingnya pencegahan sejak dini.
Orang tua, guru, dan lingkungan sosial dinilai memiliki peran penting untuk membantu anak mengenali informasi yang manipulatif, narasi kebencian, serta ajakan yang mengarah pada kekerasan.
Pendidikan literasi digital juga dipandang perlu berjalan beriringan dengan pendidikan kebangsaan. Dengan begitu, generasi muda tidak hanya memahami cara menggunakan teknologi, tetapi juga memiliki kemampuan untuk mempertanyakan informasi dan mengenali risiko yang muncul di dalamnya.
Aksi flashmob tersebut diikuti sekitar 20 peserta dan berlangsung tertib serta damai. Sejumlah masyarakat yang melintas di kawasan KBS turut memperhatikan kegiatan tersebut.
Gerakan Pemuda Peduli Masyarakat Jawa Timur berharap kampanye tersebut dapat memperluas kesadaran masyarakat bahwa pencegahan ekstremisme merupakan tanggung jawab bersama.
Keluarga, sekolah, komunitas, dan masyarakat dinilai perlu membangun kerja sama agar ruang digital tidak menjadi tempat tumbuhnya intoleransi dan kekerasan.
Di tengah semakin dekatnya kehidupan generasi muda dengan media sosial, pencegahan ekstremisme pun dituntut tidak hanya dilakukan setelah muncul persoalan. Membangun kemampuan berpikir kritis, komunikasi terbuka, dan literasi digital sejak dini menjadi bagian penting untuk memperkuat daya tahan generasi muda terhadap berbagai narasi yang dapat mengancam persatuan.
Damailah Indonesiaku Bersama Cegah Terorisme!