VATIKAN — Semangat kemerdekaan Indonesia tidak mengenal batas wilayah. Bahkan di pusat kehidupan umat Katolik dunia, semangat kebangsaan tetap dirawat oleh warga Indonesia yang tengah menjalankan panggilan keagamaannya.
Sebanyak 11 biarawati asal Indonesia dipercaya menjadi Pasukan Pengibar Bendera (Paskibra) dalam upacara peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di KBRI untuk Takhta Suci Vatikan, Senin (17/8/2026).
Keterlibatan para biarawati tersebut menghadirkan pesan kuat mengenai hubungan antara identitas keagamaan dan kebangsaan. Di tengah keberagaman Indonesia, kecintaan terhadap Tanah Air dapat berjalan berdampingan dengan keyakinan dan pengabdian kepada agama.
Bagi para rohaniwati tersebut, mengenakan seragam Paskibra dan mengibarkan Merah Putih di negeri orang bukan sekadar tugas seremonial. Momen itu menjadi kesempatan untuk menunjukkan bahwa identitas sebagai warga negara Indonesia tetap melekat meski mereka berada jauh dari Tanah Air.
Salah seorang anggota Paskibra, Suster Maria Josephine, rohaniwati asal Lembata, Nusa Tenggara Timur, dari Keuskupan Larantuka, bahkan telah empat kali mendapat kesempatan menjalankan tugas tersebut di Vatikan.
“Sebagai seorang biarawati yang bertugas jauh dari Indonesia, saya merasa bahwa pengabdian keagamaan dan rasa cinta tanah air adalah dua hal yang saling menguatkan,” ujar Suster Maria.
Menurut Maria, keikutsertaan para biarawati dalam upacara kemerdekaan menjadi pengingat bahwa agama dan nasionalisme tidak perlu ditempatkan dalam posisi yang berlawanan.
Ia memandang Indonesia sebagai rumah bersama yang dibangun dari keberagaman suku, budaya, dan agama. Karena itu, semangat persatuan perlu terus dirawat, termasuk oleh warga Indonesia yang berada di luar negeri.
Bagi para biarawati, pengibaran Merah Putih di Vatikan sekaligus menjadi cara sederhana untuk menunjukkan identitas Indonesia di tengah masyarakat internasional.
Pesan tersebut menjadi semakin relevan ketika intoleransi dan ekstremisme masih menjadi tantangan yang dapat mengganggu persatuan. Kehadiran warga negara dari berbagai latar belakang dalam satu barisan Paskibra memperlihatkan bahwa perbedaan dapat dipertemukan melalui kecintaan terhadap Tanah Air.
Untuk menjalankan tugas tersebut, ke-11 biarawati mengikuti latihan fisik, kedisiplinan, serta formasi pengibaran bendera. Pelatihan dipimpin Asisten Atase Pertahanan RI di KBRI Roma, Mayor Arh Pinanggih Wicaksono. Tidak seluruh peserta memiliki pengalaman sebagai anggota Paskibra. Salah satunya Suster Gervasia yang relatif baru bertugas di Italia.
Namun, perbedaan pengalaman tersebut tidak menjadi hambatan. Latihan dilakukan dengan mengedepankan kedisiplinan dan kerja sama antarpeserta.
Mayor Arh Pinanggih mengaku bangga melihat antusiasme para biarawati dalam mengikuti latihan.
“Sebagai pelatih dan prajurit TNI, saya merasa sangat bangga melihat kedisiplinan serta antusiasme yang ditunjukkan oleh para biarawati Indonesia selama menjalani pemusatan latihan Paskibra di Vatikan,” ujarnya.
Menurut dia, tugas tersebut tidak hanya berkaitan dengan kemampuan baris-berbaris. Ada nilai kebangsaan yang ikut ditanamkan melalui setiap proses latihan.
“Saya tidak hanya mengajarkan teknik Paskibra, tetapi juga memastikan bahwa nilai-nilai patriotisme senantiasa menyala di dada setiap warga negara Indonesia, di mana pun mereka berada,” kata Pinanggih.
Upacara kemerdekaan di KBRI untuk Takhta Suci Vatikan pada akhirnya menjadi lebih dari sekadar agenda tahunan. Kehadiran 11 biarawati Indonesia membawa pesan bahwa kecintaan kepada Indonesia dapat diwujudkan melalui berbagai bentuk pengabdian.
Di satu sisi, mereka menjalankan panggilan sebagai rohaniwati. Di sisi lain, mereka tetap membawa identitas sebagai warga negara Indonesia yang memiliki tanggung jawab untuk menjaga nama baik dan persatuan bangsa. Dari Vatikan, Merah Putih kembali menjadi simbol yang mempertemukan berbagai identitas dalam satu semangat kebangsaan.
Pesan itu juga menunjukkan bahwa upaya merawat toleransi dan kebinekaan tidak selalu harus dilakukan melalui pernyataan besar. Terkadang, ia hadir dalam barisan sederhana, ketika warga Indonesia dengan latar belakang berbeda berdiri bersama untuk menghormati bendera yang sama.
Damailah Indonesiaku Bersama Cegah Terorisme!