Berdamai dengan Luka Masa Lalu, Penyintas Bom Kuningan Aktif Kampanyekan Perdamaian

MEDAN — Penyintas ledakan bom Kuningan 2004, Mulyono, membagikan kesaksian hidupnya dalam forum Halaqah Alim Ulama di Hotel Santika Medan, Rabu (12/8/2026). Dalam acara yang diselenggarakan oleh Aliansi Indonesia Damai (AIDA) dan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara tersebut, ia mengajak masyarakat luas untuk memilih jalan damai dan menjauhi paham radikalisme.

Peristiwa ledakan bom di depan Kedutaan Besar Australia pada 9 September 2004 silam telah mengubah jalan hidup Mulyono. Pria yang berprofesi sebagai IT Senior Manager di PT Bank Danamon ini menderita luka serius akibat berada di dalam mobil yang hanya berjarak 25 meter dari titik ledakan, memaksanya menjalani rentetan operasi serta pemulihan panjang di Jakarta, Singapura, dan Australia.

“Cintai perdamaian, jangan membenarkan terorisme, dan jangan pernah membalas kekerasan dengan kekerasan,” pesan Mulyono saat mengingatkan bahwa terorisme membawa penderitaan nyata bagi nyawa manusia yang tidak bersalah, seperti dikutip dari situs resmi muisumut.or.id.

Berdasarkan laporan muisumut.or.id, alih-alih merawat dendam, Mulyono memilih untuk memaafkan. Meski hingga kini ia masih harus mengonsumsi obat dan menahan sakit kepala setiap hari akibat insiden tersebut, Pembina Yayasan Penyintas Indonesia ini justru aktif mengampanyekan perdamaian dan kerap turun bersama para mantan pelaku terorisme.

Dukungan keluarga dan keyakinan pada nilai-nilai agama menjadi landasan utamanya untuk bangkit. Bagi Mulyono, pengalaman tragis sebagai penyintas memberikan tanggung jawab moral untuk mengedukasi masyarakat, membimbing generasi muda agar tidak mudah terpengaruh narasi kekerasan, dan memutus rantai kebencian di masa depan.