IKAL Lemhannas DKI Jakarta Gelar Seminar Kebangsaan, Perkuat Ketahanan Ideologi Hadapi Ancaman Radikalisme

JAKARTA — Penguatan wawasan kebangsaan dinilai menjadi salah satu kunci penting dalam menjaga stabilitas nasional di tengah meningkatnya tantangan global, disrupsi digital, serta berbagai ancaman yang berpotensi mengganggu persatuan bangsa. Berangkat dari semangat tersebut, Ikatan Alumni Lemhannas (IKAL) DKI Jakarta akan menggelar Seminar Nasional bertajuk “Penguatan Wawasan Kebangsaan sebagai Fondasi Stabilitas Politik, Kepastian Hukum dan Ketahanan Nasional Menuju Indonesia Emas 2045” pada Rabu (12/8/2026) di Balai Agung DKI Jakarta.

Kegiatan yang akan berlangsung secara hibrida tersebut menjadi ruang konsolidasi pemikiran berbagai kalangan untuk memperkuat ketahanan ideologi bangsa sekaligus merumuskan langkah strategis menghadapi tantangan kebangsaan di era modern.

Ketua IKAL Lemhannas DKI Jakarta, Sylviana Murni, menegaskan bahwa ancaman terhadap keutuhan bangsa saat ini tidak hanya datang dari persoalan politik dan ekonomi, tetapi juga dari berkembangnya intoleransi, radikalisme, serta polarisasi sosial yang memanfaatkan kemajuan teknologi informasi.

“Sebagai bagian dari alumni Lemhannas, saya sangat menyadari bahwa tantangan terbesar bangsa kita hari ini tidak hanya datang dari sektor politik dan ekonomi, tetapi juga dari ancaman nyata intoleransi serta radikalisme yang memanfaatkan arus disrupsi digital,” ujar Sylviana.

Menurutnya, perkembangan media sosial dan teknologi digital telah membuka ruang yang luas bagi penyebaran propaganda yang berpotensi memecah belah masyarakat. Karena itu, penguatan wawasan kebangsaan menjadi kebutuhan mendesak agar masyarakat memiliki daya tahan ideologis yang kuat dalam menghadapi berbagai pengaruh negatif.

Sylviana menilai nilai-nilai Pancasila harus terus diinternalisasikan dalam kehidupan bermasyarakat agar tidak mudah tergerus oleh paham-paham yang bertentangan dengan semangat persatuan dan kebhinekaan Indonesia.

Melalui seminar tersebut, IKAL Lemhannas DKI Jakarta berupaya mempertemukan unsur akademisi, pemerintah, praktisi, organisasi masyarakat, serta generasi muda dalam satu forum dialog yang konstruktif. Tujuannya tidak hanya memperkaya gagasan, tetapi juga mendorong lahirnya rekomendasi kebijakan yang dapat memperkuat ketahanan nasional.

Seminar yang mengusung semangat “Tanhana Dharma Mangrwa” itu dijadwalkan dibuka oleh Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung. Sementara pidato kunci akan disampaikan oleh tokoh nasional TB Ace Hasan Syadzily yang akan membahas pentingnya nilai-nilai kebangsaan sebagai modal strategis menghadapi tantangan masa depan.

Diskusi akan dipandu oleh Dr. Ir. Imam Rozikin dan menghadirkan sejumlah narasumber dari berbagai disiplin ilmu, antara lain Dr. Faizal Hafied, Dr. Dadang Solihin, dan Muhammad Iqbal, Ph.D.

Para pembicara akan mengupas keterkaitan antara wawasan kebangsaan, stabilitas politik, kepastian hukum, pembangunan sumber daya manusia, serta penguatan ketahanan nasional dalam menghadapi berbagai ancaman kontemporer, termasuk intoleransi, ekstremisme, dan ideologi terorisme.

Sylviana menegaskan bahwa penguatan wawasan kebangsaan tidak boleh berhenti sebagai konsep akademik atau diskursus intelektual semata. Menurutnya, nilai-nilai kebangsaan harus diterjemahkan ke dalam tindakan nyata yang mampu memperkuat kohesi sosial dan memperkokoh persatuan nasional.

“Penguatan wawasan kebangsaan tidak boleh hanya menjadi wacana teoritis yang berhenti di ruang diskusi, melainkan harus melahirkan rekomendasi kebijakan yang berdampak nyata. Ketahanan nasional hanya dapat terwujud jika seluruh komponen bangsa, mulai dari aparatur pemerintah hingga generasi muda, memiliki komitmen yang sama dalam menjaga persatuan,” katanya.

Ia juga mengajak seluruh elemen masyarakat untuk membangun kesadaran kolektif dalam menolak segala bentuk intoleransi, radikalisme, dan ideologi kekerasan yang berpotensi mengancam keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Menurut Sylviana, Indonesia memiliki modal sosial yang kuat berupa keberagaman budaya, agama, dan suku bangsa. Namun modal tersebut harus terus dirawat melalui dialog, pendidikan kebangsaan, dan penguatan nilai toleransi agar tidak dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang ingin menciptakan perpecahan.

Forum kebangsaan ini sekaligus menjadi bagian dari upaya memperluas partisipasi publik dalam memperkuat ketahanan ideologi bangsa. Dengan melibatkan mahasiswa, organisasi kemasyarakatan, akademisi, dan masyarakat umum, pesan persatuan serta komitmen menjaga kebhinekaan diharapkan dapat menjangkau lapisan masyarakat yang lebih luas.

Melalui forum tersebut, IKAL Lemhannas DKI Jakarta berharap lahir berbagai gagasan dan langkah strategis yang dapat memperkuat fondasi kebangsaan Indonesia. Dengan wawasan kebangsaan yang kokoh, bangsa Indonesia diyakini akan lebih siap menghadapi tantangan global sekaligus menjaga stabilitas nasional menuju terwujudnya visi Indonesia Emas 2045.