Cegah Radikalisme Sejak Dini, Polisi Ajak Orang Tua Lebih Peduli Aktivitas Anak

SINGKAWANG – Upaya mencegah penyebaran paham ekstremisme dan radikalisme di kalangan pelajar tidak cukup dilakukan di lingkungan sekolah. Keluarga, khususnya orang tua, dinilai memiliki peran paling strategis karena menjadi pihak pertama yang membentuk karakter sekaligus mengawasi aktivitas anak dalam kehidupan sehari-hari.

Pesan tersebut disampaikan Kepala Satuan Pembinaan Masyarakat (Kasat Binmas) Polres Singkawang, IPTU Budi Anggoro, saat menjadi narasumber dalam sosialisasi bertajuk “Sinergi Keluarga, Sekolah, dan Masyarakat dalam Pencegahan Ekstremisme dan Radikalisme di Kalangan Pelajar” yang digelar dalam rangkaian Gerakan Singkawang Hebat–Menuju Perubahan (GSH-MP) di Ruang Bumi Betuah, Kantor Wali Kota Singkawang, Rabu (5/8).

Menurut Budi, perilaku ekstrem tidak selalu muncul dalam bentuk aksi kekerasan atau keterlibatan dalam kelompok radikal. Gejalanya kerap diawali dari perilaku yang dianggap sepele, seperti perundungan, tawuran, hingga kebiasaan mengonsumsi konten negatif di media sosial tanpa pendampingan.

“Perilaku ekstrem itu bisa dimulai dari tindakan sederhana seperti perundungan. Karena itu, pencegahan harus dilakukan sejak gejala awal muncul,” kata Budi.

Ia menjelaskan, Polres Singkawang selama ini rutin memberikan penyuluhan kepada pelajar mulai dari jenjang sekolah dasar hingga sekolah menengah. Namun, menurutnya, pendekatan tersebut perlu diperluas dengan melibatkan orang tua secara lebih aktif.

“Kami ingin bisa memberikan sosialisasi langsung kepada para orang tua siswa. Banyak persoalan yang justru terjadi di luar lingkungan sekolah sehingga pengawasan keluarga menjadi sangat penting,” ujarnya.

Budi menilai masih ada orang tua yang belum memberikan perhatian penuh terhadap aktivitas anak, terutama ketika berada di luar rumah maupun saat menggunakan telepon pintar dan media sosial.

“Anak belum pulang sampai pukul 23.00 WIB, tetapi orang tua tidak bertanya atau merasa khawatir. Ini bukan hanya soal keamanan, tetapi juga menyangkut masa depan anak,” tuturnya.

Menurut dia, berbagai persoalan seperti balap liar, tawuran, hingga kecanduan permainan yang mengandung unsur kekerasan menunjukkan pentingnya keterlibatan keluarga dalam membangun disiplin, karakter, dan kemampuan anak menyaring pengaruh negatif dari lingkungan maupun dunia digital.

Karena itu, Polres Singkawang berharap Dinas Pendidikan bersama seluruh sekolah dapat memfasilitasi pertemuan rutin antara kepolisian dan orang tua siswa agar edukasi mengenai kenakalan remaja, literasi digital, serta pencegahan ekstremisme dapat diberikan secara langsung.

“Kalau sasarannya orang tua, saya yakin sosialisasi ini akan jauh lebih efektif dibandingkan hanya diberikan kepada siswa,” ucapnya.

Sementara itu, Ketua Panitia, Heri Sutrisna, mengatakan kegiatan tersebut bertujuan memperkuat kolaborasi antara keluarga, sekolah, masyarakat, dan aparat penegak hukum dalam membangun lingkungan pendidikan yang aman dan kondusif.

Ia mengungkapkan, hingga saat ini belum ditemukan kasus ekstremisme maupun radikalisme yang melibatkan pelajar di Kota Singkawang. Meski demikian, berbagai gejala awal seperti perundungan dan tawuran tidak boleh diabaikan karena berpotensi berkembang menjadi persoalan yang lebih serius apabila tidak ditangani sejak dini.

“Melalui sinergi ini kami berharap tercipta lingkungan pendidikan yang aman, inklusif, serta mampu membentuk generasi muda Singkawang yang berkarakter, toleran, dan memiliki wawasan kebangsaan yang kuat,” kata Heri.