Xinjiang – Model penanggulangan terorisme yang dikembangkan Indonesia mendapat perhatian dalam International Seminar on Counter-Terrorism 2026 yang digelar di Prefektur Otonomi Kazak Ili, Provinsi Xinjiang, Tiongkok, Selasa (4/8/2026). Dalam forum yang mempertemukan pakar dan pejabat dari berbagai negara tersebut, Indonesia dinilai memiliki pendekatan yang unik karena memadukan peran negara dengan partisipasi aktif masyarakat.
Peneliti Pusat Riset Politik Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Nostalgiawan Wahyudhi, menjelaskan bahwa keberhasilan Indonesia dalam menghadapi ancaman terorisme tidak hanya bertumpu pada kebijakan pemerintah, tetapi juga ditopang oleh keterlibatan masyarakat sipil dalam berbagai upaya pencegahan.
Saat menjadi pembicara pada panel “Comprehensive Approaches to Addressing the Root Causes of Terrorism”, Nostalgiawan menegaskan bahwa pendekatan Indonesia berkembang sesuai karakter masyarakat yang demokratis dan terbuka setelah era reformasi.
“Indonesia memiliki dua kekuatan utama. Di satu sisi negara tetap menjalankan fungsi strategisnya dalam penanggulangan terorisme, sementara di sisi lain masyarakat diberi ruang untuk berpartisipasi aktif. Model seperti ini layak menjadi pengalaman yang dapat dibagikan kepada negara lain,” ujarnya.
Ia menilai setiap negara memiliki strategi yang berbeda karena dipengaruhi kondisi sosial, budaya, dan sistem politik masing-masing. Sebagai contoh, Tiongkok lebih mengedepankan koordinasi pemerintah yang terstruktur, sedangkan Indonesia mengembangkan pola kolaboratif dengan melibatkan organisasi masyarakat dan komunitas sebagai mitra pemerintah.
Menurut Nostalgiawan, keterlibatan masyarakat menjadi modal penting dalam memperkuat ketahanan terhadap penyebaran paham ekstremisme. Partisipasi sukarela dari berbagai komunitas dinilai mampu memperluas jangkauan pencegahan hingga ke tingkat akar rumput.
“Ketika masyarakat memiliki kesadaran untuk bersama-sama mencegah terorisme, posisi negara menjadi lebih kuat karena upaya penanggulangan dilakukan secara kolektif,” katanya.
Ia juga menyoroti peran organisasi Islam besar di Indonesia, seperti Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah, yang selama ini berkontribusi dalam membangun moderasi beragama dan memperkuat daya tahan masyarakat terhadap ideologi kekerasan.
Menurutnya, jaringan kedua organisasi tersebut yang menjangkau hingga tingkat desa menjadi keunggulan yang tidak dimiliki banyak negara.
“Kedua organisasi ini mempunyai basis masyarakat yang sangat luas hingga lapisan paling bawah. Potensi seperti ini merupakan kekuatan penting dalam upaya pencegahan ekstremisme,” ujarnya.
Nostalgiawan berharap pengalaman Indonesia yang mengedepankan keseimbangan antara pendekatan keamanan, penghormatan terhadap hak asasi manusia, nilai kemanusiaan, dan pemberdayaan masyarakat dapat menjadi salah satu referensi dalam pengembangan strategi kontra-terorisme di tingkat global.
Seminar internasional tersebut menghadirkan berbagai narasumber dari sejumlah negara, di antaranya peneliti dari Chinese Academy of Social Sciences (CASS), perwakilan lembaga kontra-terorisme Irak, akademisi Minzu University of China, serta perwakilan Unit Anti-Teroris Angkatan Bersenjata Kenya.
Dalam forum yang sama, Utusan Khusus Pemerintah Tiongkok untuk Isu Timur Tengah, Zhai Jun, mengingatkan bahwa ancaman terorisme terus mengalami transformasi seiring perkembangan konflik geopolitik dan kemajuan teknologi.
Ia mengatakan jaringan teroris seperti Al-Qaeda dan ISIS terus beradaptasi dengan memanfaatkan konflik bersenjata, ketidakstabilan kawasan, hingga ruang digital untuk memperluas pengaruh mereka.
“Terorisme adalah musuh bersama umat manusia,” tegas Zhai Jun.
Menurutnya, strategi penanggulangan tidak cukup hanya mengandalkan pendekatan keamanan. Upaya mengatasi kemiskinan, mendorong pembangunan, menyelesaikan konflik, serta memperkuat kerja sama internasional juga merupakan bagian penting dalam menghilangkan akar penyebab terorisme.
Pandangan senada disampaikan Ketua Dewan Komunitas Muslim Dunia, Ali Rashid Al Nuaimi. Ia menilai penyalahgunaan ajaran agama oleh kelompok ekstremis merupakan ancaman serius yang justru merusak citra Islam di mata dunia.
“Terorisme yang bersembunyi di balik simbol-simbol Islam merupakan ancaman paling berbahaya bagi Islam itu sendiri,” ujarnya.
Seminar tersebut menjadi ruang dialog bagi para pemangku kepentingan dari berbagai negara untuk saling berbagi pengalaman dalam menyusun strategi pencegahan terorisme yang lebih komprehensif. Pendekatan Indonesia yang menggabungkan kebijakan negara, pemberdayaan masyarakat, serta kolaborasi dengan organisasi keagamaan dinilai sebagai salah satu praktik baik yang relevan dalam menghadapi tantangan terorisme global yang semakin kompleks.
Damailah Indonesiaku Bersama Cegah Terorisme!