Mewujudkan Kerukunan Lintas Agama dan Menangkal Intoleransi Lewat Aksi Bebersih Sungai Cibalok Bogor

Bogor – Aksi nyata dalam membendung paham intoleransi, radikalisme, dan perpecahan antargolongan terus ditunjukkan secara inklusif oleh masyarakat Kota Bogor. Pada Sabtu, 1 Agustus 2026, puluhan warga dari berbagai latar belakang agama bersatu padu membersihkan aliran Sungai Cibalok di Kelurahan Bondongan, Kecamatan Bogor Selatan. 

Kegiatan gotong royong ini melibatkan ragam elemen masyarakat, seperti BMV Katedral, SFA Sukasari, Zebaoth, Gusdurian, Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI), Ansor, Banser, FKUB, serta LPBI NU. Kolaborasi lintas iman ini menjadi jawaban tegas atas berbagai narasi kebencian dan ajaran eksklusif yang kerap mencoba merusak sendi-sendi persatuan bangsa. 

“Sebagai bagian dari jajaran Pemerintah Kota Bogor, saya merasa sangat bangga dan tersentuh menyaksikan pemandangan indah di mana seluruh elemen lintas agama bersatu demi kebaikan bersama,” tegas Wakil Wali Kota Bogor, Jenal Mutaqin, saat memimpin apel pembukaan di Gereja Katolik St. Fransiskus Asisi Sukasari, Sabtu (1/8/2026) dikutip dari laman tribunnews.com.

Jenal menegaskan bahwa dalam ajaran agama mana pun, menjaga kebersihan adalah sebagian dari iman dan bagian dari perintah suci yang wajib kita amalkan. Melalui aksi ini, dirinya ingin menunjukkan kepada publik bahwa kerukunan antarumat beragama di Bogor sangat solid. Masyarakat Bogor menolak keras narasi radikalisme yang membenturkan perbedaan, sebab hari ini telah terbukti bahwa perbedaan keyakinan justru menjadi perekat untuk merawat lingkungan dan Kota Bogor agar tetap bersih, aman, serta asri.

Kegiatan yang diawali dengan apel bersama ini menyusuri aliran sungai di tiga wilayah RW setempat. Kehadiran ormas keagamaan Islam seperti Ansor, Banser, dan LPBI NU yang bahu-membahu bersama komunitas Katolik, Protestan, Gusdurian, hingga JAI, memperlihatkan betapa kuatnya benteng pertahanan sosial masyarakat Bogor dalam menolak paham ekstremisme kekerasan. Sinergi ini sekaligus membuktikan bahwa ruang-ruang perjumpaan sosial mampu mencairkan prasangka serta memperkokoh rasa saling percaya antarkelompok.

“Saya sungguh tidak menyangka antusiasme warga dan rekan-rekan dari komunitas lintas agama begitu luar biasa untuk terjun langsung ke sungai hari ini. Saya meyakini bahwa langkah sederhana seperti memungut sampah bersama ini memiliki efek luar biasa dalam meruntuhkan sekat-sekat prasangka dan membendung benih-benih intoleransi. Melalui kerja sosial ini, saya ingin mengirimkan pesan kuat bahwa masyarakat Kota Bogor tidak mudah diprovokasi oleh paham radikal yang mengusung kebencian. Kami bahagia bisa hadir bersama, saling melengkapi, dan meningkatkan nilai toleransi beragama secara nyata di tengah kehidupan bermasyarakat,” ungkap Ketua Panitia Komunitas Lintas Agama Kota Bogor, Sukoco. 

Pemerintah Kota Bogor memberikan apresiasi tinggi dan ruang seluas-luasnya bagi komunitas mana pun yang ingin menginisiasi aksi kemanusiaan dan lingkungan serupa. Edukasi kebangsaan berbasis aksi lapangan ini dinilai jauh lebih efektif untuk merawat keberagaman daripada sekadar teori. Keikutsertaan aktif aparatur wilayah dan warga dalam menjaga fasilitas umum turut memperkuat ketahanan sosial warga dari ancaman doktrinasi radikal.

“Saya menginstruksikan kepada seluruh aparatur wilayah untuk terus memelopori dan mensyiarkan kegiatan kebersamaan seperti ini secara rutin di lingkungan warga,” ujar Jenal Mutaqin.

Jenal percaya jika syiar kebaikan dan toleransi ini terus kita gaungkan, warga lain akan tergerak melakukan hal yang sama. Ia menutup pernyataanya dengan berharap agar aksi hari ini dicatat dalam sejarah sebagai bukti bahwa Kota Bogor adalah rumah yang ramah, bersih, dan toleran bagi semua kelompok, di mana radikalisme serta intoleransi tidak akan pernah mendapat tempat.