Zikir Kebangsaan di Monas, Menag Ajak Rawat Persatuan di Tengah Perbedaan

Jakarta – Menteri Agama Nasaruddin Umar menegaskan bahwa kerukunan antarumat beragama merupakan salah satu aset paling berharga yang dimiliki Indonesia dalam menghadapi berbagai tantangan global. Di tengah keberagaman suku, budaya, dan keyakinan, persatuan dinilai menjadi fondasi penting bagi keberlangsungan pembangunan nasional.

Pesan tersebut disampaikan Nasaruddin saat menghadiri Zikir dan Doa Kebangsaan yang digelar di kawasan Monumen Nasional (Monas), Jakarta, Sabtu, sebagai rangkaian menyambut Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.

Menurut Nasaruddin, perbedaan keyakinan tidak boleh menjadi alasan untuk terpecah. Sebaliknya, seluruh elemen bangsa memiliki ikatan yang sama sebagai warga negara yang mencintai Indonesia.

“Kita boleh berbeda keyakinan, tetapi kita disatukan oleh cinta yang sama kepada Indonesia,” ujar Nasaruddin di hadapan para peserta zikir dan doa kebangsaan.

Kegiatan tersebut dihadiri jajaran menteri Kabinet Merah Putih, para ulama, tokoh lintas agama, serta berbagai unsur masyarakat. Presiden Prabowo Subianto yang sebelumnya dijadwalkan hadir tidak dapat mengikuti acara karena menjalankan tugas kenegaraan.

Menag menjelaskan, Zikir dan Doa Kebangsaan merupakan bentuk rasa syukur atas kemerdekaan Indonesia yang diperoleh berkat rahmat Tuhan Yang Maha Esa sebagaimana tertuang dalam Pembukaan UUD 1945. Momentum tersebut juga menjadi ruang bersama bagi seluruh anak bangsa untuk memperkuat semangat persatuan.

Ia menggambarkan Indonesia sebagai bangsa yang dianugerahi keberagaman luar biasa. Karena itu, menurutnya, harmoni sosial harus terus dipelihara agar tidak terkikis oleh perbedaan.

“Indonesia adalah lukisan Tuhan yang paling indah di muka bumi sehingga tidak boleh kita mengacak-acaknya,” katanya.

Nasaruddin menyebut upaya menjaga kerukunan selama beberapa tahun terakhir menunjukkan hasil yang menggembirakan. Hal itu tercermin dari meningkatnya Indeks Kerukunan Umat Beragama dari 76,47 pada 2024 menjadi 77,89 pada 2025. Angka tersebut menjadi capaian tertinggi sejak indikator itu mulai diukur sekaligus melampaui target Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025.

Selain itu, Indeks Kesalehan Umat Beragama pada 2025 juga mengalami peningkatan hingga mencapai 84,20.

Menurutnya, capaian tersebut tidak lepas dari kontribusi para tokoh agama, pemuka masyarakat, serta seluruh elemen bangsa yang selama ini terus membangun dialog, memperkuat toleransi, dan menjaga kehidupan yang harmonis di tengah masyarakat yang majemuk.

Menag pun menyampaikan apresiasi kepada para tokoh lintas agama yang dinilainya konsisten membimbing umat sekaligus menjaga suasana damai dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Di akhir sambutannya, Nasaruddin mengajak seluruh masyarakat untuk terus mendoakan Indonesia agar tetap memperoleh keberkahan, menjaga persatuan, serta mampu melanjutkan pembangunan nasional di tengah dinamika dunia yang semakin kompleks.

Ia optimistis Indonesia memiliki peluang besar menjadi salah satu pusat peradaban dunia pada masa mendatang. Optimisme tersebut didukung oleh kondisi sosial, ekonomi, dan politik nasional yang dinilai relatif stabil dibandingkan dengan sejumlah negara yang masih menghadapi konflik berkepanjangan.

“Bila persatuan terus kita rawat, Indonesia memiliki modal yang kuat untuk melangkah menjadi bangsa yang semakin maju dan disegani di tingkat dunia,” ujarnya.