JAKARTA – Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid mengingatkan bahwa pola penyebaran radikalisme di ruang digital mengalami perubahan signifikan. Jika sebelumnya kelompok ekstrem identik dengan propaganda yang terbuka dan bernada kebencian, kini perekrutan lebih sering dilakukan melalui pendekatan yang tampak humanis dan penuh empati.
Menurut Meutya, kelompok radikal mulai membangun kedekatan dengan calon korbannya melalui berbagai bentuk bantuan pribadi, mulai dari bantuan biaya pengobatan, pelunasan utang, hingga tawaran kehidupan yang lebih baik. Setelah kepercayaan terbentuk, korban secara perlahan diarahkan untuk menerima paham ekstrem.
“Kekerasan sekarang justru sering diawali dengan uluran tangan. Ada bantuan pengobatan, pelunasan utang, bantuan personal, kemudian disusul janji-janji kesejahteraan. Setelah kepercayaan terbentuk, barulah mereka diarahkan pada paham yang ekstrem,” ujar Meutya di Jakarta, Rabu.
Ia menjelaskan, pendekatan tersebut sengaja dirancang agar tidak menimbulkan kecurigaan. Sasaran utamanya adalah kelompok rentan, terutama anak-anak dan remaja yang aktif menggunakan media digital.
Sebagai contoh, Meutya menyebut adanya modus yang menawarkan pendidikan gratis atau kehidupan yang lebih baik. Namun, setelah korban mengikuti ajakan tersebut, mereka justru dihadapkan pada eksploitasi dan indoktrinasi.
“Misalnya dijanjikan sekolah gratis, tetapi ketika sampai di tujuan justru dipaksa menjalani kehidupan yang sama sekali berbeda dari yang dijanjikan,” katanya.
Meutya juga mengungkapkan bahwa pada Mei lalu, Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) berhasil menggagalkan upaya perekrutan terhadap 112 anak melalui sebuah platform digital. Temuan tersebut menunjukkan bahwa ruang siber masih menjadi medium utama yang dimanfaatkan kelompok radikal untuk mencari anggota baru.
Menurutnya, proses radikalisasi di dunia digital berlangsung secara bertahap sehingga sering kali luput dari perhatian keluarga. Salah satu tanda awal yang perlu diwaspadai adalah berkurangnya komunikasi antara anak dengan orang tua.
“Hubungan dengan orang tua mulai renggang, cerita yang dulu terbuka menjadi semakin sedikit, hingga akhirnya komunikasi terputus. Pada tahap itu, sering kali keluarga baru menyadari telah terjadi perubahan yang serius,” ujarnya.
Meutya menilai perkembangan teknologi memperbesar tantangan tersebut. Algoritma media digital cenderung menyajikan informasi yang sejalan dengan minat dan keyakinan pengguna sehingga menciptakan ruang informasi yang semakin tertutup terhadap pandangan lain.
Akibatnya, seseorang dapat terus menerima narasi yang memperkuat keyakinannya meskipun bertentangan dengan fakta. Kondisi itu, menurut Meutya, dimanfaatkan kelompok ekstrem untuk mempercepat proses radikalisasi di ruang digital.
“Ketika narasi bertemu dengan algoritma, fakta bisa kalah oleh emosi dan keyakinan. Karena itu, literasi digital dan pengawasan keluarga menjadi benteng utama agar masyarakat, terutama generasi muda, tidak mudah terpengaruh propaganda ekstrem di dunia maya,” tuturnya.
Damailah Indonesiaku Bersama Cegah Terorisme!