Bogor – Cerita rakyat yang selama ini dikenal sebagai warisan budaya lisan kini mulai dikembangkan sebagai media pendidikan karakter untuk memperkuat nilai toleransi dan mencegah tumbuhnya sikap intoleran sejak usia dini. Gagasan tersebut tengah dikembangkan tim peneliti Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang melalui penelitian yang melibatkan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) sebagai mitra validasi substansi.
Kolaborasi itu dibahas dalam kunjungan kerja tim peneliti UIN Walisongo ke Kantor BNPT di Bogor, Jawa Barat, Senin (27/7/2026), dalam rangka memvalidasi hasil penelitian bertajuk “Rekonstruksi Cerita Rakyat untuk Mitigasi Intoleransi Siswa Madrasah Ibtidaiyah (MI)”.
Penelitian dipimpin Prof. Dr. Syamsul Ma’arif, M.Ag., bersama Dr. Citra Rizky Lestari, M.Pd., dengan tujuan menghadirkan model pembelajaran yang memanfaatkan cerita rakyat sebagai sarana menanamkan nilai-nilai kebinekaan, perdamaian, dan penghormatan terhadap perbedaan kepada peserta didik sejak jenjang sekolah dasar.
Dalam penelitian tersebut, BNPT berperan sebagai supervisor konten untuk memastikan muatan nilai dalam dua produk penelitian, yakni buku cerita rakyat “Tutur Harmoni Nusantara” dan buku model pembelajaran “Tutur Bijak Nusantara”, selaras dengan prinsip pencegahan radikalisme, penguatan toleransi, serta nilai-nilai kebangsaan.
Ketua Tim Peneliti, Prof. Syamsul Ma’arif, menjelaskan bahwa penelitian berangkat dari kebutuhan menghadirkan materi pendidikan karakter yang dekat dengan pengalaman budaya anak-anak Indonesia. Cerita rakyat dipilih karena memiliki daya tarik sekaligus sarat pesan moral yang mudah dipahami peserta didik.
“Kami mengemas ulang narasi cerita rakyat agar memuat pesan-pesan perdamaian, keterbukaan, dan toleransi yang mudah dicerna oleh siswa Madrasah Ibtidaiyah. Keterlibatan BNPT sebagai supervisor sangat penting agar nilai-nilai pencegahan intoleransi yang disampaikan tepat sasaran dan tetap berperspektif kebangsaan,” ujarnya.
Menurutnya, pendekatan berbasis budaya lokal juga diharapkan mampu membuat pendidikan toleransi terasa lebih kontekstual sehingga tidak dipahami sebagai konsep yang abstrak, melainkan sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.
BNPT menyambut baik inisiatif tersebut. Direktur Pencegahan BNPT melalui Subkoordinator Penelitian dan Evaluasi, Teuku Fauzansyah, S.S., menilai pemanfaatan cerita rakyat merupakan pendekatan edukatif yang mampu menjangkau anak-anak tanpa menggunakan narasi yang bersifat menggurui.
Ia menilai upaya mitigasi intoleransi perlu dimulai sejak dini melalui jalur pendidikan sekaligus diperluas melalui ruang-ruang kebudayaan agar pesan yang dibangun lebih mudah diterima masyarakat.
“Upaya memitigasi intoleransi harus dilakukan secara kolektif dan menyasar akar pendidikan. Penggunaan cerita rakyat yang direkonstruksi dengan nilai-nilai perdamaian merupakan pendekatan yang lembut namun efektif untuk anak-anak. BNPT hadir memastikan substansi narasi tetap sejalan dengan nilai-nilai Pancasila, konsensus kebangsaan, dan pencegahan paham radikal,” kata Fauzansyah.
Ia berharap hasil penelitian tersebut tidak berhenti sebagai produk akademik, tetapi dapat dimanfaatkan oleh sekolah, guru, komunitas literasi, dan pelaku kebudayaan sebagai salah satu referensi pembelajaran toleransi di lingkungan pendidikan dasar.
Penelitian ini memperoleh dukungan pendanaan dari Kementerian Agama melalui program MORA Air Fund sebagai bagian dari penguatan riset pendidikan karakter di lingkungan madrasah.
Melalui proses validasi bersama BNPT, buku cerita rakyat dan model pembelajaran yang dihasilkan diharapkan menjadi bahan ajar pendukung yang adaptif, kontekstual, dan mudah diterapkan oleh guru Madrasah Ibtidaiyah dalam membangun karakter peserta didik yang menghargai keberagaman serta memiliki daya tangkal terhadap sikap intoleran sejak usia dini.
Kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, dan dunia pendidikan ini menunjukkan bahwa pencegahan intoleransi tidak hanya dilakukan melalui pendekatan keamanan, tetapi juga melalui penguatan literasi budaya. Dengan menghadirkan kembali cerita rakyat dalam wajah yang lebih relevan dengan tantangan masa kini, pendidikan karakter diharapkan mampu menjadi fondasi lahirnya generasi yang inklusif, moderat, dan berkomitmen menjaga persatuan Indonesia.
Damailah Indonesiaku Bersama Cegah Terorisme!