Cegah Ekstremisme Sejak Dini, Densus 88 Gandeng Sekolah Perkuat Literasi Digital Pelajar
PALEMBANG – Satuan Tugas Wilayah (Satgaswil) Sumatera Selatan Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Polri mengintensifkan upaya pencegahan radikalisme di lingkungan pendidikan dengan memberikan pembekalan kepada ratusan siswa baru di sejumlah sekolah di Sumatera Selatan. Langkah tersebut dilakukan sebagai bentuk antisipasi terhadap semakin masifnya penyebaran paham ekstrem melalui ruang digital.
Program edukasi menyasar siswa di SMAN 10 Palembang, SMPN 6 Talang Kelapa, Kabupaten Banyuasin, dan SMKN 1 Palembang. Sosialisasi dilaksanakan bertepatan dengan masa pengenalan lingkungan sekolah (MPLS) agar para pelajar memperoleh pemahaman sejak awal mengenai bahaya radikalisme dan pentingnya menjaga nilai-nilai kebangsaan.
Kepala Bidang Humas Polda Sumatera Selatan, Kombes Pol Nandang Mu’min Wijaya, Kamis (16/7/2026), mengatakan pembekalan tersebut merupakan bagian dari komitmen Densus 88 dalam memperkuat ketahanan generasi muda terhadap berbagai bentuk penyebaran paham ekstrem.
“Densus 88 Antiteror Polri berkomitmen melindungi generasi muda dari ancaman radikalisme. Melalui kegiatan ini, kami ingin membekali siswa baru agar memiliki daya tangkal terhadap penyebaran paham yang kini semakin banyak memanfaatkan ruang digital,” ujar Nandang, Kamis (16/7/2026).
Menurutnya, pola perekrutan kelompok radikal telah mengalami perubahan. Jika sebelumnya lebih banyak dilakukan melalui pertemuan langsung, kini media sosial, forum daring, hingga platform permainan (online game) mulai dimanfaatkan untuk mendekati kalangan remaja.
Karena itu, kemampuan menyaring informasi dan memahami etika bermedia digital dinilai menjadi salah satu kunci utama dalam mencegah penyebaran paham ekstremisme.
Ajarkan Siswa Mengenali Konten Radikal
Rangkaian edukasi dimulai pada Senin (13/7) di SMAN 10 Palembang yang diikuti sekitar 500 siswa baru.
Dalam sesi tersebut, narasumber Briptu Achmad Nur Rohman mengajak peserta mengenali ciri-ciri konten radikal di internet, termasuk cara mengidentifikasi akun media sosial maupun situs yang menyebarkan propaganda kekerasan.
Para siswa juga diingatkan agar tidak mudah mempercayai informasi yang beredar tanpa melakukan verifikasi terhadap sumbernya.
Keesokan harinya, Selasa (14/7), kegiatan dilanjutkan di SMPN 6 Talang Kelapa dengan melibatkan sekitar 210 siswa.
Dalam kesempatan itu, Briptu Nicolas Saputra menekankan pentingnya memahami empat konsensus dasar kebangsaan sebagai fondasi menjaga persatuan. Ia juga mengingatkan peserta agar berhati-hati terhadap ajakan belajar agama secara instan melalui media sosial yang tidak jelas sumber maupun kredibilitasnya.
Pada hari yang sama, pembekalan juga diberikan kepada sekitar 500 siswa SMKN 1 Palembang.
Materi yang disampaikan Brigpol Wahyu Ansori dan Brigpol Putra Yesa menyoroti proses berkembangnya radikalisme yang sering kali diawali dari sikap intoleransi terhadap perbedaan. Dalam sesi tersebut, Pancasila ditegaskan sebagai landasan utama dalam membangun kehidupan bermasyarakat yang damai dan menghargai keberagaman.
Peran Orang Tua dan Sekolah Dinilai Penting
Selain membekali siswa, Densus 88 juga mengajak sekolah dan orang tua untuk memperkuat pengawasan terhadap aktivitas digital anak.
Menurut Nandang, pencegahan radikalisme tidak dapat dilakukan hanya oleh aparat penegak hukum. Keterlibatan keluarga dan lingkungan pendidikan menjadi faktor penting dalam mengenali perubahan perilaku maupun potensi paparan terhadap konten ekstrem.
“Kolaborasi antara aparat penegak hukum, lembaga pendidikan, dan orang tua sangat penting. Kami berharap pembekalan sejak hari pertama sekolah dapat membantu menciptakan lingkungan pendidikan di Sumatera Selatan yang aman, toleran, dan terbebas dari pengaruh paham ekstremisme yang bertentangan dengan nilai-nilai Pancasila,” katanya.
Kegiatan sosialisasi di tiga sekolah tersebut berlangsung secara interaktif. Para siswa aktif berdiskusi dan mengajukan pertanyaan mengenai penggunaan media sosial yang aman, sementara kepala sekolah dan guru menyambut positif upaya edukasi yang dinilai relevan dengan tantangan yang dihadapi generasi muda di era digital.
Damailah Indonesiaku Bersama Cegah Terorisme!