Tasikmalaya – Pemerintah Kota Tasikmalaya memastikan akan terus memperkuat program pembinaan dan reintegrasi sosial bagi mantan narapidana terorisme (eks napiter) menyusul insiden ledakan bom rakitan yang melibatkan AAS (28), seorang eks napiter yang kini berprofesi sebagai pedagang es teh.
Peristiwa yang terjadi di kawasan Dadaha, Kota Tasikmalaya, itu diduga dipicu konflik pribadi antarpedagang. Ledakan tersebut tidak menimbulkan korban jiwa, namun menjadi perhatian pemerintah daerah untuk memperkuat langkah-langkah pencegahan agar kejadian serupa tidak terulang.
Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kota Tasikmalaya, Ade Hendar, mengatakan pembinaan terhadap eks napiter tetap dilakukan secara berkelanjutan melalui pendekatan reintegrasi sosial dan pencegahan.
“Tetap dilakukan upaya reintegrasi bagi saudara kita eks napiter, kita upayakan preventif secara terus menerus, mereka kan warga Tasikmalaya,” ujar Ade, Rabu (15/7/2026).
Menurut Ade, AAS merupakan warga Kota Tasikmalaya yang pernah terjerat kasus terorisme pada 2020. Setelah menyelesaikan proses hukum, ia mengikuti berbagai program pembinaan sebelum kembali menjalani kehidupan bermasyarakat.
Selama ini, lanjut Ade, AAS diketahui telah beraktivitas normal dan berusaha mencari nafkah sebagai pedagang.
“Sepengetahuan kami yang bersangkutan eks napiter dan sudah seperti biasa, ada pembinaan hingga sudah membaur,” katanya.
Ade menjelaskan pembinaan terhadap eks napiter tidak hanya dilakukan oleh Kesbangpol, tetapi juga melibatkan berbagai instansi, termasuk Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), melalui program deradikalisasi dan pendampingan sosial.
“Pola pembinaan tidak hanya di kita saja, instansi lain ada, kita lebih ke salah satunya dengan deradikalisasi,” ujarnya.
Berdasarkan informasi awal yang dihimpun pemerintah daerah, ledakan tersebut lebih mengarah pada konflik personal dibandingkan aksi yang bermotif terorisme.
Ade menilai kejadian itu berawal dari perselisihan antarpedagang yang kemudian memicu tindakan spontan pelaku.
“Kalau kami melihat sebagai persaingan dagang saja, dan kita tidak melihat ruang-ruang itu (terorisme),” katanya.
Ia juga menegaskan bahwa berdasarkan informasi sementara, bom rakitan tersebut diduga tidak disiapkan untuk melakukan aksi teror yang menargetkan masyarakat.
“Sebatas aksi spontanitas, hanya saja spontanitasnya ini lain,” ucap Ade.
Keterangan para saksi di lokasi memperkuat dugaan tersebut. Resa, seorang pedagang yang berada di sekitar lokasi, mengaku sempat mendengar adu mulut antara AAS dan seorang pedagang lain berinisial E yang disebut berada dalam kondisi mabuk.
Menurut Resa, AAS terdengar mengucapkan kalimat bernada pembuktian.
“Yeuh bisi teu percaya mah tingali (kalau tidak percaya lihat),” ujar Resa menirukan ucapan yang didengarnya.
Tak lama setelah itu, ia melihat AAS memperlihatkan benda yang menyerupai remote sebelum akhirnya terdengar ledakan keras.
Saksi lainnya, Irfan, mengatakan AAS diduga merasa tersinggung karena kerap diejek mengenai masa lalunya sebagai mantan pelaku tindak pidana terorisme.
“Ibaratnya dia ingin menunjukkan kepada pedagang yang bermasalah dengannya,” kata Irfan.
Meski demikian, Irfan bersyukur ledakan tersebut tidak menimbulkan korban jiwa.
Pembinaan Berkelanjutan Jadi Fokus
Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa proses reintegrasi sosial eks napiter memerlukan pendampingan yang berkelanjutan, tidak hanya dalam aspek ideologi, tetapi juga psikososial, ekonomi, serta kemampuan menyelesaikan konflik secara damai.
Pemerintah Kota Tasikmalaya menegaskan akan terus bersinergi dengan BNPT, aparat keamanan, dan berbagai pihak terkait untuk memastikan program pembinaan berjalan efektif sehingga para eks napiter dapat beradaptasi secara positif di tengah masyarakat sekaligus meminimalkan potensi munculnya kembali tindakan yang membahayakan keselamatan publik.
Damailah Indonesiaku Bersama Cegah Terorisme!