MPLS SMPN 1 Paciran Hadirkan Duta Damai BNPT Jatim, 370 Siswa Baru Dibekali Literasi Digital dan Pencegahan Bullying

Lamongan – Sebanyak kurang lebih 370 peserta didik baru SMP Negeri 1 Paciran mengikuti kegiatan edukasi literasi digital dan penguatan karakter yang menghadirkan Duta Damai Dunia Maya BNPT Regional Jawa Timur sebagai narasumber dalam rangkaian Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) Tahun Pelajaran 2026/2027, Selasa (14/7/2026).

Kegiatan yang dilaksanakan di aula sekolah tersebut merupakan bagian dari komitmen SMP Negeri 1 Paciran untuk membekali peserta didik dengan pengetahuan yang tidak hanya berfokus pada akademik, tetapi juga kesiapan menghadapi tantangan dunia digital yang semakin kompleks.

Dalam sesi sosialisasi, Ketua Duta Damai Dunia Maya BNPT Regional Jawa Timur, Achmad Reza Rafsanjani, mengajak para siswa memahami bahwa media sosial telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, namun penggunaannya harus disertai tanggung jawab dan kedewasaan.

Ia menjelaskan bahwa pemerintah saat ini telah menerbitkan kebijakan melalui Peraturan Menteri Komunikasi dan Digital Nomor 9 Tahun 2026 sebagai turunan dari PP TUNAS (Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Perlindungan Anak) yang menekankan pentingnya perlindungan anak di ruang digital. Salah satu perhatian utama regulasi tersebut adalah pembatasan akses terhadap layanan digital bagi anak di bawah usia tertentu agar terhindar dari berbagai risiko di internet.

Menurut Reza, anak-anak di bawah usia 16 tahun masih berada pada fase perkembangan psikologis sehingga membutuhkan pendampingan orang tua dan guru dalam menggunakan media sosial maupun platform digital.

“Media sosial bukan hanya tempat mencari hiburan, tetapi juga ruang yang dapat memengaruhi cara berpikir, perilaku, bahkan pandangan hidup seseorang. Karena itu, adik-adik harus menjadi pengguna internet yang cerdas, tidak mudah percaya terhadap informasi yang belum jelas kebenarannya, serta selalu berpikir kritis sebelum membagikan sesuatu,” ujarnya.

Dalam pemaparannya, Reza juga mengingatkan bahwa saat ini terdapat sejumlah komunitas maupun permainan (game) daring yang dapat dimanfaatkan oleh pihak-pihak tertentu untuk membangun komunikasi secara tertutup dengan anak-anak dan remaja. Melalui interaksi yang berlangsung secara bertahap, pelaku dapat menyisipkan narasi kebencian, kekerasan, atau paham ekstrem kepada pengguna yang rentan. Oleh sebab itu, ia mengimbau para siswa agar tidak mudah bergabung dalam komunitas digital yang tidak dikenal serta selalu berkonsultasi dengan guru maupun orang tua apabila menemukan aktivitas yang mencurigakan di internet.

Selain membahas keamanan digital, materi juga menyoroti persoalan bullying yang masih sering terjadi di lingkungan sekolah. Reza menjelaskan bahwa banyak penelitian menunjukkan korban perundungan memiliki risiko lebih tinggi mengalami gangguan psikologis, kehilangan rasa percaya diri, bahkan lebih mudah dipengaruhi oleh kelompok yang menawarkan penerimaan tanpa syarat. Kondisi tersebut dapat dimanfaatkan oleh kelompok ekstrem untuk melakukan pendekatan dan perekrutan.

“Anak yang merasa diterima, dihargai, dan memiliki lingkungan yang sehat akan jauh lebih kuat menghadapi berbagai pengaruh negatif. Sebaliknya, mereka yang mengalami perundungan sering kali merasa sendirian dan mencari tempat lain untuk diterima. Karena itu, mencegah bullying bukan hanya melindungi teman kita, tetapi juga menjaga mereka dari berbagai risiko yang lebih besar,” jelasnya.

Ia menegaskan bahwa candaan yang berlebihan tidak selalu berarti bercanda. Apabila perkataan atau tindakan tersebut membuat orang lain merasa malu, takut, tertekan, atau tersakiti, maka hal itu sudah termasuk bentuk bullying.

“Jangan pernah menganggap semua candaan itu lucu. Kalau ada teman yang sudah merasa sakit hati, malu, atau tidak nyaman, berarti candaan itu harus dihentikan. Empati menjadi kunci agar kita bisa saling menghargai,” pesannya kepada para peserta.

Dalam kesempatan tersebut, para siswa juga diajak untuk membangun budaya saling peduli di lingkungan sekolah. Mereka didorong agar tidak menjadi pelaku maupun penonton ketika terjadi perundungan. Reza mengingatkan bahwa setiap siswa memiliki tanggung jawab untuk berani melapor kepada guru atau pihak sekolah apabila mengetahui adanya tindakan bullying maupun kekerasan.

“Kita semua memiliki peran menjaga sekolah tetap aman. Jika melihat teman menjadi korban bullying atau kekerasan, jangan diam. Laporkan kepada guru agar dapat segera ditangani. Melapor bukan berarti mengadu, tetapi bentuk kepedulian terhadap keselamatan teman kita,” tegasnya.

Melalui kegiatan ini, SMP Negeri 1 Paciran bersama Duta Damai Dunia Maya BNPT Regional Jawa Timur berharap para peserta didik baru tidak hanya siap menjalani proses belajar di sekolah, tetapi juga memiliki karakter yang kuat, bijak dalam memanfaatkan teknologi digital, serta mampu menjadi generasi yang saling menghargai, peduli terhadap sesama, dan berani menciptakan lingkungan sekolah yang aman, damai, serta bebas dari bullying dan kekerasan.