Makna Toleransi di Balik Tradisi Ngelawar Umat Hindu

Makna Toleransi di Balik Tradisi Ngelawar Umat Hindu

CINERE — Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat (Ditjen Bimas) Hindu Kementerian Agama RI menyelenggarakan kegiatan Simakrama dan Ngelawar Bersama umat Hindu di Pura Amrta Jati, Cinere, pada Minggu (28/6/2026). Kegiatan gotong royong meracik hidangan tradisional tersebut dilaksanakan dalam rangka menyambut pelaksanaan upacara keagamaan Pujawali.

Mengutip dari Wikipedia, Lawar merupakan hidangan tradisional khas Bali berupa campuran sayur-sayuran dan cincangan daging yang dibumbui dengan rempah lengkap khas Bali dan kelapa parut.

“Saya menyampaikan terima kasih karena hari ini kita bisa bergotong royong bersama untuk simakrama dan ngelawar. Lawar itu bukan campuran dari bahan yang sama, melainkan dari elemen yang berbeda,” ujar Dirjen Bimas Hindu, dilansir dari situs resmi Bimas Hindu Kemenag, Minggu (28/6/2026).

Dirjen Bimas Hindu menjadikan filosofi lawar sebagai simbol nyata keberagaman bangsa yang dirajut menjadi satu kesatuan. Menurutnya, hidangan tersebut memadukan bahan-bahan dengan cita rasa berbeda menjadi satu sajian yang nikmat, sehingga esensinya adalah kebersamaan yang menjadi milik semua orang.

Kehadiran aparatur negara yang membaur di tengah umat ini mendapat respons positif dari warga. Penasehat Pengurus Banjar Pura Amrta Jati, Ida Bagus Wisnu Wardhana, mengapresiasi konsep kegiatan yang mempererat persaudaraan di tengah perbedaan.

“Kami mengucapkan terima kasih dan sangat bangga dengan konsep ini, karena benar-benar menciptakan keeratan persaudaraan,” tegas Ida Bagus Wisnu Wardhana mengutip laporan Bimas Hindu Kemenag. Sementara itu, Ketua Banjar Pura Amrta Jati, Made Budi P Artha, dan Perwakilan Panitia Pujawali, Ketut Sugiarta, menilai keterlibatan langsung aparatur pemerintah dalam kegiatan komunal tersebut sebagai bentuk nyata kehadiran dan kepedulian negara dalam mendukung aktivitas keagamaan di masyarakat.