PEKANBARU – Pemerintah Provinsi Riau menegaskan bahwa keluarga merupakan benteng pertama dalam mencegah penyebaran paham intoleransi, radikalisme, ekstremisme, dan terorisme (IRET). Penguatan ketahanan keluarga dinilai menjadi fondasi penting untuk membentuk generasi muda yang berkarakter, toleran, dan memiliki semangat kebangsaan yang kuat.
Komitmen tersebut disampaikan Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (P3AP2KB) Provinsi Riau, Fariza, saat menyatakan dukungan terhadap Program RATAKAN (Riau Tangkal Ancaman dan Kembangkan Nilai Kebangsaan) yang digelar Satgaswil Riau Densus 88 Anti Teror Polri di berbagai sekolah di Provinsi Riau.
Menurut Fariza, pembentukan karakter anak berawal dari lingkungan keluarga. Nilai moral, toleransi, dan kecintaan terhadap bangsa pertama kali dipelajari anak dari orang tua sebelum mereka mengenal lingkungan yang lebih luas.
“Keluarga adalah sekolah pertama bagi anak. Sebelum mengenal lingkungan luar, anak lebih dahulu belajar dari orang tua dan keluarga. Karena itu, pencegahan intoleransi, radikalisme, ekstremisme, dan terorisme harus dimulai dari rumah melalui penguatan nilai kebangsaan, toleransi, serta kasih sayang dalam keluarga,” ujarnya di Pekanbaru, Kamis (25/6/2026).
Ia menilai perkembangan teknologi informasi dan media sosial menghadirkan tantangan baru bagi pola pengasuhan. Kemudahan mengakses berbagai informasi membuat anak dan remaja semakin rentan terpapar konten yang mengandung ujaran kebencian, intoleransi, hingga propaganda yang bertentangan dengan nilai-nilai Pancasila.
Karena itu, Fariza menekankan bahwa orang tua tidak cukup hanya mengawasi penggunaan gawai, tetapi juga perlu membangun komunikasi yang terbuka agar anak memiliki kemampuan menyaring informasi yang diterima di ruang digital.
“Orang tua perlu hadir di tengah perkembangan teknologi yang dihadapi anak-anak. Bukan hanya mengawasi, tetapi juga membangun komunikasi yang terbuka, memberikan pemahaman yang benar, dan menjadi tempat bertanya yang nyaman ketika anak menemukan informasi yang membingungkan di ruang digital,” katanya.
Fariza juga mengapresiasi pelaksanaan Program RATAKAN yang telah menjangkau puluhan ribu pelajar di Kota Pekanbaru dan Kabupaten Siak. Menurutnya, program tersebut merupakan investasi jangka panjang dalam memperkuat daya tahan generasi muda terhadap penyebaran ideologi kekerasan.
“Kami menyambut baik dan mendukung penuh Program RATAKAN yang dilaksanakan Satgaswil Riau Densus 88 AT Polri. Program ini tidak hanya memberikan edukasi kepada peserta didik, tetapi juga meningkatkan kesadaran seluruh elemen masyarakat tentang pentingnya menjaga generasi muda dari pengaruh paham yang bertentangan dengan Pancasila,” ungkapnya.
Sebagai perangkat daerah yang membidangi perlindungan anak dan penguatan keluarga, Dinas P3AP2KB Provinsi Riau terus menjalankan berbagai program untuk meningkatkan kualitas pengasuhan, memperkuat ketahanan keluarga, serta melindungi anak dari berbagai ancaman sosial.
Menurut Fariza, keluarga yang harmonis, komunikatif, dan penuh perhatian akan mampu membangun ketahanan psikologis anak sehingga tidak mudah dipengaruhi ajakan maupun propaganda yang mengarah pada sikap intoleran dan ekstrem.
“Ketika anak merasa dihargai, didengarkan, dan mendapatkan perhatian yang cukup dari keluarga, mereka akan memiliki kepercayaan diri serta kemampuan berpikir yang lebih baik dalam menghadapi berbagai pengaruh negatif dari lingkungan sekitar,” jelasnya.
Ia pun mengajak para orang tua membiasakan budaya berdiskusi di rumah mengenai nilai-nilai kebangsaan, toleransi, etika bermedia sosial, serta bahaya penyebaran informasi yang mengandung kebencian dan kekerasan.
Fariza menegaskan bahwa upaya pencegahan IRET tidak dapat dilakukan oleh satu pihak saja. Dibutuhkan sinergi antara keluarga, sekolah, pemerintah daerah, tokoh agama, tokoh masyarakat, hingga aparat keamanan.
“Membangun generasi yang tangguh tidak bisa dilakukan sendiri-sendiri. Diperlukan kolaborasi antara keluarga, sekolah, masyarakat, dan pemerintah. Ketika seluruh pihak bergerak bersama, kita akan mampu melahirkan generasi yang cerdas, berkarakter, toleran, dan cinta tanah air,” tegasnya.
Hingga saat ini, Program RATAKAN telah menjangkau 94 sekolah dengan melibatkan 84.369 siswa, 1.972 guru, 135 guru bimbingan dan konseling, serta 66 kepala sekolah. Capaian tersebut menunjukkan kuatnya kolaborasi antara Satgaswil Riau Densus 88 Anti Teror Polri, Pemerintah Provinsi Riau, dunia pendidikan, dan keluarga dalam memperkuat ketahanan masyarakat terhadap ancaman intoleransi, radikalisme, ekstremisme, dan terorisme. Melalui penguatan keluarga sebagai garda terdepan, Pemerintah Provinsi Riau berharap mampu mencetak generasi muda yang tidak hanya sehat dan cerdas, tetapi juga berkarakter, menjunjung tinggi toleransi, serta menjadi agen perdamaian dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.
Damailah Indonesiaku Bersama Cegah Terorisme!