JAKARTA — Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) meminta mahasiswa Indonesia yang sedang menempuh pendidikan di luar negeri untuk mengambil peran aktif dalam mencegah penyebaran paham radikal dan ideologi kekerasan.
Kepala BNPT Eddy Hartono menegaskan generasi muda, termasuk diaspora dan pelajar Indonesia di luar negeri, merupakan aset strategis bangsa yang memiliki peran penting dalam menjaga ketahanan ideologi nasional di tengah perkembangan ancaman global yang semakin kompleks.
Hal tersebut disampaikan Eddy saat memberikan arahan strategis secara virtual dalam kegiatan Sekolah Kader Perhimpunan Pelajar Indonesia Dunia Kawasan Timur Tengah dan Afrika (PPIDK Timtengka), Jumat (19/6/2026).
“Kami harapkan menjadi agen perubahan dalam mencegah penyebaran ideologi kekerasan,” kata Eddy sebagaimana dikonfirmasi di Jakarta, Rabu (24/6/2026).
Menurut Eddy, tantangan keamanan global saat ini tidak bisa dilepaskan dari dinamika geopolitik yang berkembang cepat dan berdampak terhadap berbagai sektor, mulai dari ekonomi, politik hingga keamanan.
Salah satu perkembangan yang menjadi perhatian berbagai negara adalah perubahan pola ancaman terorisme global. Meski sejumlah kelompok teror mengalami pelemahan secara organisasi, ideologi yang mereka bawa masih terus bertahan dan menyebar melalui berbagai saluran.
“Secara struktur organisasi mereka melemah, namun secara ideologi dan pengaruh, terorisme tetap menjadi ancaman nyata,” ujarnya.
Ia menjelaskan kelompok teroris kini semakin adaptif dalam memanfaatkan perkembangan teknologi digital. Media sosial, platform komunikasi daring, dan berbagai ruang digital lainnya digunakan untuk menyebarkan propaganda, merekrut anggota baru, serta memperluas pengaruh lintas negara.
Karena itu, BNPT memandang penguatan wawasan kebangsaan di kalangan generasi muda menjadi bagian penting dari strategi pencegahan radikalisme dan terorisme.
Menurut Eddy, mahasiswa Indonesia yang belajar di luar negeri tidak hanya dituntut memiliki kemampuan akademik yang baik, tetapi juga harus memiliki integritas, kecintaan terhadap Tanah Air, serta pemahaman yang kuat terhadap nilai-nilai kebangsaan.
Arahan tersebut mendapat respons positif dari peserta kegiatan. Perwakilan PPIDK Timtengka, Fhalih Habib, menilai materi yang disampaikan Kepala BNPT memberikan perspektif penting mengenai tantangan yang dihadapi generasi muda Indonesia di kawasan Timur Tengah dan Afrika.
Ia mengatakan pelajar Indonesia yang berada di kawasan dengan dinamika konflik dan geopolitik yang tinggi perlu memiliki pemahaman yang kuat mengenai pentingnya menjaga stabilitas, persatuan, dan identitas kebangsaan.
“Kawasan kita, Timur Tengah dan Afrika, sarat dengan dinamika konflik geopolitik sehingga tantangan terhadap stabilitas politik dan nasional telah menjadi ujian nyata bagi kita,” ujar Fhalih.
Menurut dia, pesan yang disampaikan BNPT menjadi pengingat bahwa generasi muda tidak cukup hanya unggul secara intelektual, tetapi juga harus memiliki kesadaran kebangsaan yang kuat serta menjauhi segala bentuk paham radikal dan terorisme.
Kegiatan Sekolah Kader PPIDK Timtengka merupakan bagian dari upaya memperkuat ketahanan ideologi generasi muda Indonesia di luar negeri sekaligus meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman radikalisme yang terus berkembang. PPIDK Timtengka sendiri merupakan organisasi yang mewadahi pelajar Indonesia di 19 negara kawasan Timur Tengah dan Afrika. Organisasi yang terafiliasi dengan Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Dunia tersebut aktif menyelenggarakan berbagai program pengembangan kapasitas, mulai dari simposium, konferensi pelajar, hingga lokakarya yang melibatkan mahasiswa Indonesia dari berbagai negara.
Damailah Indonesiaku Bersama Cegah Terorisme!