Kabinda Maluku Gandeng Ordinariat Castrensis Indonesia Atasi Tantangan Radikalisme Digital

Ambon – Sebagai bagian dari upaya penanggulangan radikalisme di dunia maya, Kabinda Maluku mengundang perwakilan dari Ordinariat Castrensis Indonesia (OCI) untuk beraudiensi dan membahas berbagai peran yang bisa dilakukan dari kedua belah pihak. Pada pertemuan ini, Wakil Uskup Yosef Maria Marcellinus Bintoro menjadi pihak yang mewakili Keuskupan OCI.

Pertemuan strategis ini ditujukan sebagai bagian dari kerja sama jangka panjang antara perangkat intelijen di Maluku dengan Keuskupan OCI. Sebagai keuskupan yang menaungi para aparat penegak hukum yang beragama Katolik, OCI juga membahas berbagai isu kebangsaan dan nasionalisme demi memperkuat soliditas di antara sesama aparat. Pertemuan ini dilaksanakan pada Senin (8/6/2026).

Selain itu, pertemuan ini pun menyoroti perubahan pola pikir generasi muda saat ini yang cenderung mudah dipengaruhi oleh sebaran narasi radikalisme di media sosial. Yosef Maria Marcellinus Bintoro sendiri menjelaskan bahwa pertemuan kali ini adalah sekaligus bentuk perjalanannya, atau sabbatical journey, dalam membina terhadap umat Katolik yang berada di lingkungan TNI-Polri. 

Sebagai bentuk cinderamata terhadap Kabinda Maluku, Yosef yang mewakili OCI, menyerahkan buku yang berjudul “Kiprah 75 Tahun Pengabdian Pelayanan Umat Katolik di Lingkungan TNI dan Polri: Setia Pada Iman Teguh Dalam Tugas.” Buku ini berisi tentang tujuh dekade kontribusi Gereja Katolik terhadap umatnya di lingkungan TNI-Polri dan berbagai sejarah yang menyertainya. 

Momen tersebut sekaligus dimanfaatkan untuk memperkenalkan Angky Kandunmas yang hadir mendampingi jalannya audiensi. Selaku Pastor Pelayanan Militer dan Kepolisian (Pasyanmilpol) di wilayah Keuskupan Amboina, ia bertanggung jawab atas pembinaan rohani serta pendampingan mental bagi personel TNI dan Polri beragama Katolik yang berdinas di Provinsi Maluku dan Maluku Utara.

Lewat dialog yang berlangsung terbuka, kedua belah pihak menggarisbawahi urgensi penguatan persatuan nasional. Selain itu, ditekankan pula pentingnya membangun ketangguhan publik dalam membentengi diri dari aneka tantangan sosial, budaya, dan ideologis di era digital. Hal ini ditujukan agar antara OCI dan Kabinda bisa mengantisipasi dampak dari sebaran radikalisme di wilayah kerjanya masing-masing, khususnya yang berkaitan langsung dengan generasi muda.

Pertemuan tersebut juga memunculkan gagasan utama mengenai pentingnya sinergi dan komunikasi yang solid di antara seluruh komponen bangsa. Hal ini dinilai krusial demi memelihara tatanan masyarakat yang rukun, penuh toleransi, dan tetap berlandaskan pada jiwa nasionalisme. Rasa kebangsaan yang solid ini diharapkan mampu menangkal masuknya pengaruh ideologi transnasional yang destruktif dan mengancam kesatuan Indonesia.

Acara audiensi kemudian diakhiri dengan kesepakatan bersama untuk terus merawat komunikasi serta kemitraan yang positif, guna menyokong terwujudnya kehidupan bermasyarakat yang aman, tenteram, dan berwawasan kebangsaan. Dengan demikian, Indonesia bisa memiliki generasi muda yang ikut berperan aktif menjaga keutuhan dan kesatuan bangsa agar tidak mudah dicerai-berai oleh kepentingan praktis.