NEW YORK — Kelompok teror ISIS (Islamic State) dilaporkan telah mengubah strategi pergerakannya dari penguasaan wilayah teritorial menjadi jaringan terdesentralisasi berbasis digital. Perubahan atau rebranding ini dinilai semakin menyulitkan aparat keamanan global dalam mendeteksi dan melacak pelaku teror tunggal (lone-wolf).
Berdasarkan analisis Kevin Cohen, CEO RealEye dan kepala Intelijen Siber Trident Group America, yang dipublikasikan oleh New York Post, Minggu (24/5/2026), ancaman ISIS saat ini telah bermutasi menjadi ancaman ideologis tanpa batas. Propaganda kelompok tersebut kini lebih disesuaikan dengan isu-isu lokal dan keluhan personal untuk menargetkan individu yang terpinggirkan di berbagai negara.
Laporan bertajuk “ISIS rebranding helps lone-wolf terrorists hide in plain sight” tersebut menjelaskan bahwa strategi desentralisasi ini menjadi perisai bagi para teroris lone-wolf. Saat ini, para pelaku teror tidak lagi membutuhkan hubungan komunikasi langsung dengan jaringan inti ISIS di Timur Tengah, tidak perlu menghadiri kamp pelatihan militer, dan sering kali tidak memiliki rekam jejak kriminal sebelumnya.
Kondisi tersebut memungkinkan para simpatisan untuk bersembunyi di depan mata (hide in plain sight). Mereka dapat hidup berbaur layaknya warga biasa sehari-hari, namun secara diam-diam mampu merencanakan aksi teror hanya dengan mengandalkan instruksi dari dunia maya.
Menyikapi evolusi ini, pengamat keamanan mendesak otoritas penegak hukum dan intelijen global untuk segera merombak taktik kontra-terorisme. Metode pengawasan konvensional, seperti penjagaan ketat di perbatasan atau pelacakan aliran dana dalam jumlah besar, dinilai sudah tidak memadai.
Fokus penanganan kini dinilai harus diarahkan pada ranah digital, termasuk memerangi narasi radikal dan memantau algoritma media sosial, guna memutus mata rantai radikalisasi sebelum pelaku tunggal melancarkan aksinya.
Damailah Indonesiaku Bersama Cegah Terorisme!