Kapolri: Terorisme Bertransformasi ke Dunia Digital, Densus 88 Harus Perkuat Intelijen Siber

Jakarta — Ancaman terorisme di Indonesia memasuki babak baru. Jika sebelumnya bergerak lewat jaringan konvensional, kini kelompok ekstremis mulai memanfaatkan kecerdasan buatan (AI), media sosial, hingga platform permainan daring untuk menyebarkan paham radikal, terutama kepada generasi muda.

Situasi itu menjadi perhatian utama Kapolri Listyo Sigit Prabowo saat membuka Rapat Kerja Teknis (Rakernis) Densus 88 Antiteror Polri 2026 di Jakarta, Selasa (19/5).

Dalam forum yang berlangsung pada 18–20 Mei 2026 itu, Kapolri menegaskan bahwa pola ancaman kini berubah cepat seiring perkembangan teknologi. Karena itu, aparat penegak hukum dituntut lebih adaptif.

“Densus 88 harus terus memperkuat kemampuan intelijen teknologi dan intelijen manusia guna mengantisipasi transformasi ancaman yang bergerak cepat di ruang siber,” ujar Juru Bicara Densus 88, Mayndra Eka Wardhana, menyampaikan arahan Kapolri.

Menurut kepolisian, kelompok ekstremis saat ini tidak lagi hanya menyebarkan ideologi melalui forum tertutup atau pertemuan fisik. Mereka mulai memanfaatkan algoritma digital, radikalisasi otomatis, hingga metode gamification di game online untuk menjangkau target baru yang lebih muda dan lebih sulit terdeteksi.

Kapolri juga memberikan apresiasi kepada jajaran Densus 88 atas capaian menjaga Indonesia tanpa serangan teror selama hampir tiga tahun berturut-turut, sejak 2023 hingga 2025.

Keberhasilan itu dinilai bukan hanya menjaga keamanan nasional, tetapi juga berdampak pada meningkatnya kepercayaan publik dan memperkuat iklim investasi nasional.

“Stabilitas keamanan yang terjaga memberi dampak positif bagi agenda strategis nasional maupun internasional,” kata Mayndra.

Meski begitu, ancaman baru tetap menjadi alarm serius. Hingga pertengahan 2026, Densus 88 mencatat sedikitnya 132 anak terpapar radikalisme dan 115 anak terpapar paham kekerasan di sejumlah daerah. Penyebaran itu banyak terjadi melalui media sosial dan komunitas digital, termasuk forum seperti True Crime Community.

“Seluruh kasus itu sudah diintervensi bersama Polda, pemerintah daerah, dan berbagai pemangku kepentingan terkait,” jelas Mayndra.

Ia menegaskan, pola ekstremisme saat ini telah berubah drastis. Jika dahulu berbasis jaringan ideologis tradisional, kini penyebarannya lebih cair, cepat, dan menyusup melalui aktivitas digital sehari-hari.

“Media sosial, platform digital, hingga game online kini dimanfaatkan sebagai sarana rekrutmen, grooming, dan penyebaran kekerasan,” katanya.

Selain membuka Rakernis, Kapolri juga meninjau Milestone Wall yang menampilkan perjalanan penanggulangan terorisme di Indonesia. Dalam kesempatan itu, penghargaan diberikan kepada 12 tokoh dan mitra strategis, mulai dari perwakilan negara sahabat, akademisi, hingga psikolog yang dinilai berkontribusi dalam memperkuat upaya pencegahan terorisme di Tanah Air.