SAN DIEGO – Biro Investigasi Federal (FBI) Amerika Serikat mengungkapkan bahwa pelaku penembakan mematikan di sebuah pusat keagamaan Islam (Islamic Center) di San Diego, diduga kuat telah teradikalisasi secara online. Insiden penembakan tragis yang menargetkan tempat ibadah ini telah merenggut nyawa tiga orang korban.
Merespons temuan awal dari rekam jejak digital di perangkat pelaku, pihak FBI memberikan pernyataan terkait motif ekstremisme di dunia maya yang memicu serangan tersebut.
“Berdasarkan bukti-bukti digital yang kami kumpulkan sejauh ini, pelaku menunjukkan tanda-tanda yang jelas bahwa ia teradikalisasi secara online sebelum melancarkan serangan tragis ini,” terang perwakilan resmi FBI yang dikutip dari laporan The San Diego Union-Tribune pada 19 Mei 2026.
Berdasarkan proses penyelidikan yang tengah berlangsung, tim investigasi federal menemukan bahwa pelaku secara intensif terpapar dan mengonsumsi konten radikal sebelum mengeksekusi aksinya. Saat ini, kepolisian dan FBI terus mendalami perangkat elektronik pelaku guna memetakan sumber konten dan memastikan ada tidaknya keterlibatan pihak lain yang memengaruhi keputusan pelaku.
Dalam laporan tersebut, pihak berwenang mengonfirmasi bahwa identitas ketiga korban tewas telah diidentifikasi secara resmi. Peristiwa ini memicu kekhawatiran mendalam dari otoritas keamanan terkait ancaman penyebaran propaganda radikal di internet yang berujung pada aksi kekerasan nyata.
Damailah Indonesiaku Bersama Cegah Terorisme!