Makassar – Tantangan dakwah dan kebangsaan kini tidak hanya terjadi di ruang nyata, tetapi juga semakin masif di ruang digital. Narasi intoleransi, provokasi, hingga paham ekstrem dinilai menjadi ancaman baru yang harus direspons dengan pendekatan intelektual dan kolaboratif.
Menjawab tantangan itu, Ikatan Cendekiawan Alumni Timur Tengah (ICATT) siap menghadirkan narasi positif, khususnya tentang Islam yang moderat dan rahmatan lil alamin. Hal itu dikatakan Ketua Umum ICATT Malingkai Ilyas usai dilantik Hotel Vasaka Makassar, Kamis (14/5/2026).
Pelantikan dihadiri sekitar 150 peserta dari unsur tokoh agama, organisasi kemasyarakatan, organisasi kepemudaan, hingga perwakilan lintas agama.
Bagi Malingkai, pelantikan itu bukan sekadar agenda seremonial pergantian kepengurusan, melainkan momentum konsolidasi gagasan dan arah gerak organisasi ke depan.
“ICATT harus menjadi ruang intelektual yang mampu menghadirkan ,” kata Malingkai.
Ia menegaskan, kepengurusannya akan membawa ICATT lebih aktif di ruang digital dengan mendorong penguatan narasi keislaman yang inklusif dan relevan dengan perkembangan zaman.
“Islam itu pada dasarnya moderat, tawasuth. Nilai itulah yang ingin kami perkuat melalui gerakan organisasi ini,” ujarnya.
Menurut dia, narasi yang dibangun ICATT akan berlandaskan pada sumber-sumber otentik ajaran Islam, dengan pendekatan yang terbuka terhadap dinamika sosial modern.
“Pemahaman agama harus terus dijelaskan secara kontekstual. Fikih berkembang sesuai zamannya, dan itu perlu dijelaskan dengan baik kepada masyarakat,” katanya.
Usai pelantikan, pengurus baru langsung menggelar rapat kerja untuk menyusun agenda strategis organisasi. Salah satu keputusan penting adalah pembentukan bidang khusus Pencegahan Terorisme, Radikalisme, dan Ekstremisme.
Langkah itu diambil sebagai respons terhadap meningkatnya penyebaran narasi intoleran di media digital.
“Ini tantangan kebangsaan hari ini. Narasi provokatif dan intoleransi di ruang digital berkembang sangat cepat, dan itu tidak boleh dibiarkan,” tegas Malingkai.
Melalui bidang baru tersebut, ICATT berkomitmen terlibat aktif dalam edukasi publik, penguatan literasi keagamaan, serta membangun kolaborasi lintas organisasi untuk menghadirkan ruang digital yang lebih damai.
“Kami ingin masuk ke wilayah itu, membangun gerakan bersama, dan memperkuat kolaborasi lintas organisasi agar ruang digital kita lebih sehat,” ujarnya.
Dengan jaringan alumni Timur Tengah yang tersebar di berbagai daerah, ICATT optimistis dapat menjadi salah satu kekuatan intelektual baru dalam memperkuat moderasi beragama sekaligus menjaga persatuan bangsa di tengah tantangan era digital.
Damailah Indonesiaku Bersama Cegah Terorisme!