Densus 88 Tangkap Terduga ISIS di Padang Lawas, Tokoh Masyarakat Apresiasi

PADANG LAWAS – Penangkapan seorang pemuda berinisial MMH (31), terduga terpapar paham terorisme dan diduga pendukung ISIS oleh Densus 88 Anti Teror di Desa Tanjung Botung, Kecamatan Barumun, Kabupaten Padang Lawas, Sumatera Utara, mendapat perhatian dari berbagai kalangan masyarakat.

Dikutip dari Harian Tabagsel, langkah cepat aparat dinilai sebagai bentuk pencegahan dini yang penting untuk mencegah meluasnya penyebaran paham radikal, khususnya melalui ruang digital yang kini semakin rentan dimanfaatkan kelompok ekstremis untuk melakukan propaganda dan rekrutmen.

Penangkapan terhadap MMH dilakukan pada Kamis (7/5/2026) sekitar pukul 06.30 WIB di kediamannya. Operasi tersebut melibatkan sekitar 20 personel Densus 88 Anti Teror yang dipimpin oleh Kombes Pol Didik Novi Rahmanto.

Dari hasil pemeriksaan awal, terduga diketahui aktif berkomunikasi melalui media sosial menggunakan akun bernama “Hayabusa” dan diduga terlibat dalam sejumlah grup percakapan privat yang berisi narasi dukungan terhadap ISIS.

Selain itu, aparat juga mengamankan sejumlah barang bukti, di antaranya dua unit telepon genggam, buku, beberapa catatan bertuliskan simbol dan narasi terkait ISIS, serta barang lain yang kini masih dalam proses pendalaman oleh penyidik.

Tokoh masyarakat menilai kasus ini menjadi bukti bahwa penyebaran paham ekstremisme tidak lagi bergantung pada pertemuan fisik, tetapi semakin banyak bergerak melalui media digital yang sulit terdeteksi oleh lingkungan sekitar.

“Ini menjadi alarm bagi kita semua bahwa ancaman radikalisme sekarang masuk melalui ruang-ruang privat digital. Orang tua, tokoh masyarakat, sekolah, dan pemerintah harus lebih waspada,” ujar salah satu tokoh masyarakat setempat.

Sekretaris Kecamatan Barumun sekaligus karateker Kepala Desa Tanjung Botung, Mawardani Daulay, juga membenarkan adanya penangkapan tersebut. Ia mengaku terkejut karena selama ini MMH dikenal sebagai warga biasa dan tidak menunjukkan tanda-tanda mencolok di lingkungan sosialnya.

“Secara keseharian tidak terlihat ada hal yang mencurigakan. Karena itu kami juga cukup terkejut. Dari informasi yang kami terima, proses paparan itu justru terjadi melalui media sosial,” katanya.

Pengamat terorisme menilai pola seperti ini bukan hal baru. Dalam beberapa tahun terakhir, kelompok radikal memang mengubah strategi penyebaran ideologi mereka dengan memanfaatkan platform digital, grup tertutup, hingga aplikasi pesan instan.

Metode tersebut dinilai efektif karena mampu menjangkau individu secara personal, membangun kedekatan ideologis secara perlahan, lalu mendorong seseorang menuju tahap radikalisasi.

Karena itu, langkah preventif seperti yang dilakukan Densus 88 dinilai sangat penting.

“Penindakan dini jauh lebih efektif dibanding menunggu sampai terjadi aksi kekerasan. Ketika seseorang sudah menunjukkan indikasi kuat terpapar dan aktif menyebarkan propaganda, maka intervensi cepat harus dilakukan,” ujar seorang analis keamanan.

Kasus di Padang Lawas juga menjadi pengingat penting bagi masyarakat tentang perlunya penguatan literasi digital.

Masyarakat diminta lebih kritis dalam menyaring informasi di media sosial, terutama terhadap konten-konten yang mengandung narasi kebencian, ajakan kekerasan, atau propaganda ideologi ekstrem.

Selain itu, keluarga disebut memiliki peran penting sebagai benteng pertama dalam mencegah radikalisasi. Perubahan perilaku, pola komunikasi yang tertutup, hingga aktivitas digital yang mencurigakan perlu menjadi perhatian bersama.

“Radikalisme tidak selalu datang dari luar lingkungan. Kadang ia tumbuh diam-diam di dalam rumah melalui layar telepon genggam,” kata seorang pemerhati sosial.

Densus 88 sendiri selama ini terus menekankan bahwa pendekatan penanggulangan terorisme tidak hanya dilakukan melalui penegakan hukum, tetapi juga melalui pencegahan, edukasi, dan deradikalisasi.

Penangkapan di Padang Lawas dipandang sebagai bagian dari strategi pencegahan tersebut, agar potensi ancaman dapat dihentikan sebelum berkembang menjadi aksi teror nyata.

Masyarakat pun diimbau untuk tidak takut melaporkan aktivitas mencurigakan di lingkungan sekitar, khususnya yang berkaitan dengan penyebaran ideologi kekerasan.

Dengan kolaborasi antara aparat keamanan, pemerintah daerah, tokoh agama, tokoh masyarakat, dan keluarga, upaya mencegah penyebaran paham terorisme diharapkan dapat berjalan lebih efektif dan menjaga keamanan nasional tetap kondusif.