Intoleransi Pintu Masuk Utama Lahirnya Radikalisme di Indonesia

Jakarta – Intoleransi merupakan pintu masuk utama lahirnya radikalisme di Indonesia. Karena itu, upaya pencegahan harus dimulai dari tahap paling awal, yakni memperkuat nilai toleransi di tengah masyarakat.

Direktur Eksekutif Setara Institute Halili Hasan menegaskan radikalisme tidak tumbuh secara instan. Prosesnya berlangsung bertahap, dimulai dari intoleransi, berkembang menjadi radikalisasi, lalu dalam kondisi tertentu dapat berujung pada tindakan terorisme berbasis kekerasan.

“Kalau bicara dalam perspektif pencegahan, tidak ada ekstremisme kekerasan yang terjadi tiba-tiba. Kita harus memastikan tindakan pencegahan dilakukan dari level paling hulu,” ujar Halili, Jumat (8/5).

Ia menjelaskan pola tersebut sejalan dengan teori staircase to terrorism atau tangga menuju terorisme, yang menggambarkan bagaimana seseorang dapat bergerak secara bertahap menuju tindakan ekstrem.

Karena itu, menurutnya, fokus utama pencegahan harus diarahkan pada fase awal sebelum ideologi radikal berkembang menjadi ancaman serius.

Halili menilai promosi toleransi merupakan langkah paling mendasar dan paling efektif untuk memutus rantai tersebut sejak dini.

“Pemajuan toleransi harus menjadi agenda bersama. Ini bukan hanya tugas pemerintah, tetapi juga membutuhkan peran aktif masyarakat,” katanya.

Ia juga mengingatkan bahwa pencegahan radikalisme tidak cukup hanya mengandalkan sistem peringatan dini atau early warning system. Pemerintah dan masyarakat, kata dia, harus mampu bergerak cepat setelah tanda bahaya terdeteksi.

“Bukan hanya early warning system yang diperlukan, tapi juga early warning response. Setelah ada sinyal bahaya, harus ada respons nyata,” tegasnya.

Menurut Halili, salah satu bentuk respons paling efektif adalah memperkuat ruang-ruang toleransi di masyarakat, mulai dari keluarga, sekolah, hingga lingkungan sosial.

Ia menekankan bahwa melawan intoleransi berarti melawan akar persoalan radikalisme itu sendiri. Karena itu, dibutuhkan komitmen kuat dari seluruh elemen bangsa.

“Pemerintah, masyarakat, dan lembaga pendidikan harus berjalan bersama agar toleransi benar-benar menjadi fondasi utama dalam mencegah radikalisme,” tutupnya.