Pontianak – Ketua Komisi Perlindungan dan Pengawasan Anak Daerah (KPPAD) Kalimantan Barat, Tumbur Manalu, mengingatkan tingginya ancaman paparan radikalisme dan kekerasan terhadap anak di ruang digital.
Ia mengungkapkan, hasil survei nasional Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) bersama P3RS menunjukkan Kalimantan Barat berada di atas rata-rata nasional dalam sejumlah indikator ancaman digital.
“Perilaku ekstremisme kekerasan di ruang digital di Kalbar sudah mencapai 51 persen, sedangkan nasional 45 persen. Artinya kita sudah berada di atas angka nasional,” kata Tumbur dikutip dari laman rri.co.id, Rabu (6/5/2026).
Tak hanya itu, penyimpangan perilaku sosial akibat paparan ruang digital di Kalbar juga disebut cukup tinggi. Tumbur menyebut tingkat keterpaparan perilaku sosial menyimpang mencapai 57 persen.
Sementara ancaman siber terhadap anak tercatat berada di angka 44 persen.
“Muncul penyimpangan perilaku sosial, tingkat keterpaparannya sampai 57 persen dan ancaman cyber terhadap anak sudah 44 persen. Artinya ancaman itu ada, nyata dan faktanya sudah teruji,” ujarnya.
Menurut Tumbur, kondisi tersebut terlihat dari sejumlah kasus anak berhadapan dengan hukum (ABH) yang dipicu paparan konten radikal di media digital. Ia mencontohkan kasus pelajar di Jakarta yang disebut terpapar paham radikal melalui internet.
Ia juga mengungkapkan hasil penelusuran Detasemen Khusus 88 Antiteror menemukan sekitar 110 anak di Indonesia telah masuk dalam paparan paham radikalisme. Kalimantan Barat disebut menjadi salah satu wilayah yang turut mendapat perhatian.
“Yang lebih parah lagi, 110 itu di antaranya ada di Kalbar dan menunjukkan eksistensinya beberapa waktu lalu. Artinya apa yang disampaikan badan cyber itu linier dengan fakta di lapangan,” ungkapnya.
Tumbur menilai anak-anak sangat mudah meniru perilaku yang mereka lihat di media sosial maupun platform digital lainnya. Karena itu, ia menekankan pentingnya pengawasan orang tua dan penguatan literasi digital di lingkungan pendidikan. “Kita lihat survei hampir 40 persen masyarakat kita reaktif di dunia maya. Ada sedikit langsung di-share tanpa divalidasi. Anak-anak meniru apa yang dilihat,” katanya.
Damailah Indonesiaku Bersama Cegah Terorisme!