Kubu Raya – Komisi Perlindungan dan Pengawasan Anak Daerah Kalimantan Barat menggelar dialog interaktif guna memperkuat peran guru dan pelajar sebagai garda terdepan dalam mencegah penyebaran paham ekstremisme dan radikalisme di lingkungan sekolah. Kegiatan yang berlangsung di Kubu Raya, Senin (27/4/2026), diikuti kepala sekolah, guru bimbingan konseling, serta perwakilan organisasi siswa.
Dialog tersebut melibatkan sejumlah pihak, di antaranya dinas perlindungan anak, Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia, forum pengendalian terorisme, serta Detasemen Khusus 88 Anti Teror Polri, untuk memperkuat sinergi lintas sektor dalam upaya pencegahan.
Ketua KPPAD Kalbar Tumbur Manalu mengatakan kegiatan tersebut dilatarbelakangi kasus yang melibatkan pelajar dan menjadi perhatian berbagai pihak.
“Kami melihat terutama kejadian bulan Februari lalu, kita kaget apa yang terjadi di SMP 3 itu. Ternyata yang diduga anak tersebut sudah teridentifikasi oleh Densus 88, yang sudah masuk ke grup digital tertentu,” ujarnya.
Ia menilai kolaborasi antarinstansi selama ini belum berjalan optimal sehingga diperlukan forum bersama untuk menyatukan langkah.
“Kami lihat bahwa sinergitas kolaborasi dalam penanganan ini belum terjalin dengan baik, sehingga kita harus duduk bersama. Sekolah, dinas terkait, guru, hingga Densus yang punya kewenangan, mari kita bangun komitmen bersama,” katanya.
Menurut Tumbur, pembekalan ini penting agar pihak sekolah mampu mengenali indikator awal paham ekstremisme dan radikalisme.
“Kegiatan hari ini sangat penting dalam rangka mempersiapkan sekolah untuk mengenal dan mengidentifikasi seperti apa paham ekstremisme dan radikalisme, sehingga bisa mendeteksi apakah ada siswa yang terindikasi terpapar,” jelasnya.
Sementara itu, Ketua Pengurus Daerah ABKIN Kalbar Tri Mega Ralasari menegaskan pencegahan tidak hanya menjadi tugas guru bimbingan konseling, tetapi seluruh elemen sekolah.
“Untuk guru BK sebenarnya sekarang sudah ada sinergi dengan konsep tujuh jurus BK hebat dari kementerian. Ini bukan hanya untuk guru BK, tetapi semua segmen di sekolah, mulai dari kepala sekolah, masyarakat hingga mitra terkait,” ujarnya.
Ia menambahkan, pendekatan kolaboratif tersebut akan memperkuat deteksi dini terhadap potensi radikalisme.
“Kalau selama ini beban deteksi dini ada di guru BK, dengan tujuh jurus BK hebat maka semua stakeholder bisa berkolaborasi untuk mencegah paham radikalisme dan ekstremisme masuk ke sekolah,” katanya.
Damailah Indonesiaku Bersama Cegah Terorisme!