Pemuka Agama di Jateng Diminta Tidak Lengah Rawat Kerukunan Umat Beragama

Semarang – Para pemuka agama di Jawa Tengah diingatkan untuk tidak lengah dalam merawat kerukunan umat beragama di tengah dinamika sosial yang semakin kompleks. Berbagai potensi gangguan dinilai dapat muncul secara tiba-tiba, bahkan kerap dibungkus dalam narasi kebebasan berpendapat.

Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Jawa Tengah Prof KH Imam Yahya mengatakan ancaman terhadap kerukunan tidak selalu terlihat secara langsung. Menurutnya, sejumlah isu sensitif sering dikemas sebagai bagian dari kebebasan berekspresi, namun berpotensi mengganggu harmoni sosial.

“FKUB Jateng berharap para pemuka agama terus berupaya menjaga kerukunan yang sudah terbangun, terutama antarumat beragama, agar tidak tergerus oleh isu-isu yang menyesatkan,” ujar Imam Yahya saat membuka kegiatan Silaturahim Kebangsaan dan Penguatan Moderasi Beragama di Gedung Monumen PKK Jateng, Ungaran, Kabupaten Semarang, Kamis kemarin.

Kegiatan yang diikuti sekitar 100 peserta tersebut merupakan kolaborasi antara FKUB Jawa Tengah dan Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Jawa Tengah. Forum ini menjadi ruang untuk memperkuat sinergi antar tokoh agama dalam menjaga stabilitas sosial.

Dalam paparannya, Imam Yahya mencontohkan isu yang berpotensi mengganggu kerukunan, seperti tuduhan penistaan agama terhadap Jusuf Kalla yang sempat ramai di media sosial. Ia menilai isu semacam itu dapat berkembang cepat jika tidak segera diluruskan.

“Jika tidak cepat diredam, isu tersebut bisa menggelinding seperti bola salju dan berujung pada konflik terbuka, baik horizontal maupun vertikal,” katanya.

Ia mendorong para tokoh agama, khususnya yang tergabung dalam FKUB, untuk aktif memberikan pemahaman yang proporsional kepada masyarakat. Langkah tersebut dinilai penting agar umat tidak mudah terprovokasi hoaks maupun ujaran kebencian.

Sementara itu, Pelaksana Tugas Kepala Kesbangpol Jawa Tengah Pradana Agung Nugraha menyampaikan optimismenya terhadap peran tokoh agama dalam menjaga kondusivitas wilayah. Ia menilai sinergi antara FKUB dan masyarakat selama ini telah memberikan dampak positif.

Berdasarkan data tahun 2025, Indeks Moderasi Beragama Jawa Tengah mencapai angka 74,72, berada di atas rata-rata nasional dan menempati peringkat ketiga secara nasional. Capaian tersebut juga mengantarkan Jawa Tengah meraih penghargaan Harmoni Award.

“Capaian ini merupakan hasil kerja bersama seluruh elemen masyarakat dan FKUB yang konsisten mengedepankan nilai-nilai moderasi dalam kehidupan beragama,” ujarnya.

Ia menambahkan, kolaborasi yang terus diperkuat diharapkan mampu menjaga bahkan meningkatkan kualitas kerukunan umat beragama di Jawa Tengah di masa mendatang.