Denpasar – Upaya mencegah penyebaran paham radikalisme dan fanatisme kekerasan terus diperkuat melalui pendekatan keluarga dan pendidikan. Perwakilan Densus 88 Antiteror Polri menjadi narasumber dalam kegiatan halal bihalal dan seminar parenting di Sekolah Mutiara Bunda, Denpasar, Sabtu (11/4), yang diikuti sekitar 300 orang tua dan wali murid.
Kegiatan bertema “Mengukir Karakter Anak Melalui Keberhasilan Hati Orang Tua” tersebut menekankan pentingnya kolaborasi antara aparat, sekolah, dan keluarga dalam mencegah penyebaran intoleransi, radikalisme, ekstremisme, dan terorisme (IRET). Plh Kasatgaswil Bali Densus 88, Sri Astuti Ningsih, menegaskan bahwa keluarga memiliki peran strategis dalam membentuk karakter anak.
“Fenomena keterlibatan anak dalam paham radikalisme dan fanatisme kekerasan perlu menjadi perhatian bersama. Orang tua harus mampu mengenali tanda-tanda serta melakukan pencegahan sejak dini,” ujarnya dalam pemaparan.
Ia juga menyoroti maraknya penyebaran ideologi radikal melalui media sosial yang dinilai dapat memengaruhi pola pikir anak. Karena itu, pengawasan serta pendampingan dari orang tua dan sekolah dinilai menjadi langkah penting dalam membangun ketahanan anak.
“Peran orang tua dan sekolah sangat penting dalam membangun ketahanan anak, termasuk mencegah sikap eksklusivisme yang dapat menjadi pintu masuk paham radikal,” tambahnya.
Selain memberikan materi, tim Satgaswil Bali juga memaparkan langkah pembinaan bagi anak yang terpapar paham radikalisme melalui pendekatan kolaboratif dengan berbagai pemangku kepentingan. Mereka juga memperkenalkan jalur komunikasi yang dapat dimanfaatkan untuk pelaporan dini apabila ditemukan indikasi paparan.
Dalam kesempatan tersebut, narasumber mengajak orang tua dan pihak sekolah untuk menjadi mitra aktif dalam pencegahan, sekaligus agen penyebar nilai-nilai positif di lingkungan masing-masing. “Kolaborasi antara orang tua, sekolah, dan aparat menjadi kunci dalam menciptakan lingkungan yang aman dan kondusif bagi tumbuh kembang anak,” tegasnya.
Kegiatan berlangsung interaktif dengan sesi tanya jawab yang melibatkan sejumlah peserta. Antusiasme terlihat dari pertanyaan para orang tua terkait pola asuh anak di era digital dan cara mendeteksi dini potensi paparan radikalisme.
Melalui kegiatan ini, diharapkan keluarga dapat menjadi garda terdepan dalam melindungi anak dari pengaruh negatif, sekaligus memperkuat ketahanan lingkungan masyarakat terhadap penyebaran paham radikalisme dan fanatisme kekerasan.
Damailah Indonesiaku Bersama Cegah Terorisme!