Waspada Narcoterrorism, BNN–BNPT Perkuat Pembinaan dan Deteksi Dini

Bogor – Sinergi penanganan ancaman narkotika dan terorisme semakin diperkuat. Badan Narkotika Nasional Republik Indonesia dan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme menegaskan komitmen kolaborasi lintas sektor dalam menghadapi pola kejahatan yang kian kompleks dan saling terkait.

Penguatan koordinasi tersebut mengemuka saat Kepala BNN RI, Komjen Pol Suyudi Ario Seto, melakukan kunjungan kerja ke kantor BNPT di Bogor. Pertemuan itu tidak hanya membahas penindakan, tetapi juga strategi pencegahan melalui pendekatan pembinaan, rehabilitasi, serta pemberdayaan ekonomi bagi kelompok rentan.

Kepala BNPT, Komjen Pol (purn) Eddy Hartono, menilai ancaman keamanan nasional saat ini tidak lagi berdiri sendiri. Ia menyoroti keterkaitan antara jaringan narkotika dengan aktivitas terorisme global yang dikenal sebagai narcoterrorism. Karena itu, menurutnya, koordinasi antar lembaga menjadi faktor kunci dalam memperkuat sistem deteksi dini dan respons terpadu.

BNPT sendiri terus mengembangkan program pembinaan narapidana terorisme secara bertahap berdasarkan tingkat risiko. Pendekatan yang diterapkan tidak hanya berorientasi pada pengawasan, tetapi juga membuka ruang pembinaan melalui pelatihan keterampilan dan pendampingan sosial sebelum kembali ke masyarakat.

Suyudi Ario Seto mengapresiasi model pembinaan tersebut karena sejalan dengan pendekatan yang dijalankan BNN dalam menangani penyalahguna narkotika. Ia menekankan pentingnya memastikan mantan pengguna tidak kembali terjerumus setelah kembali ke lingkungan sosialnya.

Menurutnya, penanganan narkotika dan terorisme memang membutuhkan metode berbeda, namun keduanya memiliki titik temu dalam upaya pencegahan. Jika narkotika fokus pada pengendalian adiksi, maka terorisme menitikberatkan pada penanganan ideologi. Kombinasi keduanya dinilai penting untuk memutus siklus kejahatan yang saling beririsan.

Pendekatan tersebut juga diperkuat melalui pemberdayaan ekonomi masyarakat. Salah satu contoh yang disoroti adalah pengalihan komoditas dari tanaman ganja menjadi kopi di wilayah Gayo Lues. Program ini dinilai mampu membuka alternatif mata pencaharian sekaligus menekan potensi keterlibatan masyarakat dalam jaringan narkotika.

Selain itu, BNN juga mengingatkan adanya tren baru penyalahgunaan narkotika yang menyasar generasi muda. Salah satunya melalui rokok elektrik atau vape yang dicampur zat berbahaya seperti etomidate. Modus ini dinilai berbahaya karena sulit dideteksi dan kerap dianggap sebagai tren gaya hidup.

Kunjungan kerja tersebut juga diisi dengan peninjauan Balai Latihan Kerja yang menjadi pusat pelatihan bagi warga binaan. Berbagai keterampilan diberikan, mulai dari otomotif, kelistrikan, perbaikan AC, peternakan, menjahit hingga kerajinan kayu. Sejumlah peserta bahkan memperoleh sertifikat sebagai bekal untuk memulai usaha setelah kembali ke masyarakat.

Melalui kolaborasi ini, BNN dan BNPT menegaskan komitmen untuk memperkuat pertukaran informasi, meningkatkan koordinasi program pencegahan, serta mengintegrasikan pendekatan rehabilitasi dan deradikalisasi. Sinergi tersebut diharapkan mampu menghadapi ancaman kejahatan lintas sektor secara lebih komprehensif dan berkelanjutan.