Pope Leo XIV speaks during a meeting with the Cardinals at the Vatican, Vatican Media/­Handout via REUTERS ATTENTION EDITORS - THIS IMAGE WAS PROVIDED BY A THIRD PARTY.

Paus Leo: Tuhan Tolak Doa Pemimpin yang Gunakan Agama untuk Perang

Vatikan – Pemimpin tertinggi Gereja Katolik, Paus Leo, menyampaikan kritik keras terhadap para pemimpin dunia yang menggunakan agama sebagai pembenaran perang.

Dalam khotbah perayaan Minggu Palma di Lapangan Santo Petrus, Vatikan, Minggu  (29/3/2026), Paus menegaskan bahwa Tuhan tidak akan menerima doa dari mereka yang terlibat dalam kekerasan.

“Meskipun kamu banyak berdoa, Aku tidak akan mendengarkan: tanganmu penuh dengan darah,” ujarnya, mengutip ayat Alkitab.

Di hadapan puluhan ribu umat, Paus menyebut konflik yang sedang berlangsung—termasuk yang melibatkan Iran—sebagai tragedi kemanusiaan yang tidak dapat dibenarkan atas nama agama.

Ia menekankan bahwa sosok Yesus Kristus adalah simbol damai yang menolak segala bentuk kekerasan.

“Yesus adalah Raja Damai, yang tidak bisa digunakan siapa pun untuk membenarkan perang,” tegasnya.

Meski tidak menyebut pihak tertentu, pernyataan ini muncul di tengah meningkatnya ketegangan global, termasuk konflik yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel dalam serangan terhadap Iran sejak akhir Februari lalu.

Dalam seruan penutupnya, Paus juga menyoroti penderitaan umat Kristen di Timur Tengah yang terdampak konflik berkepanjangan. Ia menyampaikan keprihatinan karena banyak dari mereka tidak dapat merayakan Paskah dengan layak.

Paus kembali mendesak gencatan senjata segera serta mengecam serangan militer yang dilakukan tanpa pandang bulu terhadap warga sipil.

Menurutnya, penggunaan narasi agama untuk membenarkan kekerasan justru bertentangan dengan ajaran inti kekristenan.

Dalam khotbahnya, ia mengingatkan kembali kisah Injil saat Yesus menolak penggunaan kekerasan, bahkan ketika menghadapi penangkapan.

“Ia tidak melawan dengan pedang, tetapi menunjukkan wajah Allah yang penuh kasih dan menolak kekerasan,” ujarnya.

Pernyataan ini menegaskan posisi moral Vatikan bahwa agama seharusnya menjadi sumber perdamaian, bukan legitimasi konflik.