“Kupat Kerukunan” di Kota Batu, Tradisi Lokal Jadi Ruang Dialog Lintas Iman

Batu – Tradisi sederhana bisa menjadi perekat kuat di tengah keberagaman. Hal itu tampak dalam kegiatan “Kupat Kerukunan” yang digelar warga RT 14/RW 06 Dusun Ngandat, Desa Mojorejo, Kecamatan Junrejo, Kota Batu, Sabtu (28/3) malam.

Berlangsung selepas salat Isya, kegiatan diawali dengan tradisi kajatan kupat lepet yang sarat makna. Namun, lebih dari sekadar santap bersama, acara ini berkembang menjadi ruang dialog lintas agama yang hangat dan terbuka.

Warga dari berbagai latar belakang berkumpul dalam suasana akrab untuk mengikuti sarasehan yang menghadirkan tokoh-tokoh agama. Di antaranya H. Syamsul Arifin dari unsur Islam, Suwono dari Buddha, serta Wahono dari Kristen. Ketiganya berbagi pandangan tentang filosofi kupatan, menunjukkan bahwa tradisi lokal mampu menjembatani perbedaan keyakinan.

Dalam diskusi tersebut, kupat tidak hanya dimaknai sebagai hidangan khas Lebaran, tetapi juga simbol refleksi diri—mengakui kesalahan dan membuka ruang saling memaafkan. Sementara lepet dimaknai sebagai ajakan untuk mengubur rapat kesalahan masa lalu.

Kepala Dusun Ngandat, Bombom, melihat potensi lebih besar dari kegiatan ini. Ia berharap “Kupat Kerukunan” dapat dikembangkan menjadi wisata edukasi berbasis budaya dan toleransi. Menurutnya, budaya dan agama memiliki hubungan yang saling melengkapi.

“Budaya itu seperti perahu, sementara agama adalah penumpangnya,” ujarnya, menggambarkan harmoni antara tradisi dan keyakinan.

Apresiasi juga datang dari Kepala Desa Mojorejo, Rujito, yang menilai kegiatan ini sebagai inisiatif positif dalam merawat kebersamaan di tengah masyarakat. Ia berharap semangat serupa dapat terus tumbuh dan menginspirasi wilayah lain.

Nuansa budaya semakin terasa dengan penampilan Macapat Kupatan yang dibawakan oleh tokoh seni setempat, Siswanto Galuh Aji. Melalui tembang-tembang tradisional, warga diajak memahami nilai-nilai kesederhanaan, keterbukaan, dan kebersamaan.

Acara ditutup dengan makan bersama dalam suasana penuh kehangatan. Lebih dari sekadar tradisi tahunan, “Kupat Kerukunan” menjadi simbol hidupnya toleransi dan solidaritas sosial di tengah masyarakat.

Keharmonisan yang tercermin dalam kegiatan ini sekaligus menegaskan posisi Dusun Ngandat sebagai salah satu contoh nyata kampung kerukunan di Kota Batu.