Prof Zuly Qodir: Pancasila Tak Bertentangan dengan Agama, Justru Jadi Titik Temu

Yogyakarta – Menguatnya pengaruh ideologi global, mulai dari ekstremisme hingga gerakan transnasional, menjadi tantangan serius bagi ketahanan ideologi nasional. Di tengah situasi ini, kampus dinilai memiliki peran strategis sebagai garda terdepan dalam menjaga nilai-nilai kebangsaan, termasuk pemahaman yang utuh terhadap Pancasila.

Pakar sosiologi politik Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Prof. Dr. Zuly Qodir, menegaskan bahwa narasi yang mempertentangkan Pancasila dengan agama merupakan kekeliruan yang perlu diluruskan.

Menurutnya, Pancasila tidak pernah dimaksudkan untuk mengintervensi keyakinan, melainkan menjadi titik temu dalam kehidupan berbangsa di tengah keberagaman.

“Pancasila tidak mengubah agama seseorang. Ia menjadi panduan bersama dalam kehidupan bernegara,” ujarnya dalam kegiatan yang digelar Badan Pembinaan Ideologi Pancasila.

Ia menjelaskan, nilai-nilai dalam Pancasila justru memiliki keselarasan dengan ajaran universal agama, seperti saling menghormati, hidup rukun, dan menjaga persatuan. Karena itu, upaya membenturkan keduanya dinilai tidak memiliki dasar yang kuat.

Dalam konteks Indonesia yang majemuk, lanjutnya, Pancasila telah terbukti menjadi fondasi penting dalam merawat kebersamaan di tengah perbedaan identitas, baik agama, suku, maupun budaya.

Zuly menilai, tanpa pijakan ideologis yang kuat, potensi konflik berbasis identitas akan jauh lebih besar. Pancasila, dalam hal ini, berfungsi sebagai “ruang bersama” yang memungkinkan seluruh elemen bangsa hidup berdampingan.

Lebih jauh, ia mengingatkan bahwa generasi muda saat ini berada di tengah derasnya arus informasi global yang membawa berbagai ideologi, termasuk radikalisme. Tanpa pemahaman kebangsaan yang kuat, pengaruh tersebut berpotensi membentuk cara pandang yang keliru.

Karena itu, ia menekankan pentingnya keseimbangan antara pemahaman agama yang benar dan penghayatan nilai-nilai Pancasila secara utuh.

Sebagai Wakil Rektor Bidang Pendidikan dan Kemahasiswaan, Zuly juga menyoroti peran perguruan tinggi dalam membentuk karakter mahasiswa. Kampus, kata dia, tidak hanya bertugas mencetak lulusan cerdas secara akademik, tetapi juga harus menanamkan kesadaran kebangsaan.

Salah satu langkah yang dinilai krusial adalah memperkuat pendidikan kewarganegaraan dan pendidikan Pancasila sebagai bagian dari pembentukan karakter generasi muda.

“Perguruan tinggi harus menjadi ruang strategis untuk membangun perspektif kebangsaan yang kuat di kalangan mahasiswa,” tegasnya.